{"id":5890,"date":"2026-10-09T06:00:00","date_gmt":"2026-10-08T23:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/dawainews.com\/?p=5890"},"modified":"2026-10-08T15:02:56","modified_gmt":"2026-10-08T08:02:56","slug":"suami-sayang-istri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dawainews.com\/?p=5890","title":{"rendered":"Suami Sayang Istri"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Disusun : Dawai<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Awan mendung menggantung rendah, berat, seperti menahan beban yang tak terlihat. Awan-awan hitam bergerombol di atas bukit kecil yang mengelilingi desa, berbisik-bisik seolah sedang merencanakan sesuatu. Sesekali angin bertiup, membawa bau tanah basah dan daun kering\u2014tanda bahwa hujan sebentar lagi akan turun. Burung-burung layang-layang terbang rendah, menyapu permukaan sawah yang mulai menguning, mencari perlindungan sebelum air turun membasahi bulu-bulu mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di teras rumah kontrakan sederhana\u2014dinding bata tanpa plester, lantai semen yang mulai retak di beberapa sudut, atap genting yang di sana-sini sudah bergeser\u2014aku duduk sendiri. Kursi bambu tua yang setiap kali diduduki selalu berderit seperti sedang protes, menjadi singgasana kerajaan kecilku. Kerajaan dengan wilayah seluas tiga kali tiga meter persegi, tepat di depan pintu masuk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku memandangi halaman depan yang kering kerontang, kontras dengan langit di atas yang penuh ancaman. Mataku lalu beralih ke tumpukan baju di pojok teras. Baju-baju itu sudah kering sebenarnya, sejak dua jam lalu. Tapi Aku malas mengangkatnya. Biar saja. Lagipula, kalau kering terus dijemur, nanti kesorean jemurnya, besok pagi lembab lagi\u2014itu kata istriku kalau sedang memberikan kuliah umum tentang tata cara menjemur yang benar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku meraih satu kemeja\u2014kemeja batik kesayanganku, motif mega mendung, warna dasar putih bersih. Atau dulu putih bersih. Sekarang? Put. Put cerah. Put yang bahkan mungkin tidak ada di palet warna mana pun. Put yang terang-terangan berteriak: &#8220;Lihat  bekas korban kelalaian kamu!&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku menghela napas panjang, berat, seperti langit di atas. Kemeja ini dulu kupakai waktu pertama kali melamar dia. Waktu itu Aku datang dengan perasaan campur aduk\u2014gugup, takut, berdebar-debar\u2014tapi setidaknya bajuku putih bersih. Putih seputih hati saat jatuh cinta. Sekarang? Put se&#8230; entahlah. Put se-put-putnya penyesalan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di belakang rumah, dari arah dapur, terlihat uap tipis mengepul dari balik jendela kayu yang setengah terbuka. Panci bekas masak nasi gosong masih teronggok di belakang, belum dicuci. Sebenarnya tadi pagi Aku sudah berniat mencucinya. Tapi begitu melihat gosong hitam yang melekat seperti kerak bumi, semangatku langsung luruh. &#8220;Nanti direndam dulu,&#8221; kataku pada diri sendiri. &#8220;Besok juga gosongnya hilang.&#8221; Padahal Aku tahu, gosong tidak akan hilang dengan sendirinya. Sama seperti malu\u2014tidak akan hilang kalau cuma didiamkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari dalam rumah, radio tua di ruang tengah menyiarkan lagu dangdut koplo. Penyanyinya meratap tentang cinta yang tak direstui, tentang perpisahan, tentang air mata. Alex ikut bersenandung pelan, meski tidak hafal liriknya. Setidaknya suara radio mengisi keheningan yang kadang terlalu berat untuk kutanggung sendirian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seekor kucing kampung\u2014belang tiga, kurus, dengan satu telinga robek\u2014melompat ke pagar rendah pembatas teras. Ia menatapku dengan mata sipit, lalu mengeong sekali, seolah bertanya: &#8220;Lu ngapain di sini, Bang? Istri lagi keluar?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alex mengusirnya dengan lambaian tangan malas. &#8220;Pergi lu. Gue lagi merenung.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kucing itu tidak pergi. Malah tiduran, memeluk pagar, setengah tidur. Mungkin ia pikir Aku bagian dari pemandangan\u2014benda mati yang tidak perlu dihiraukan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di luar, di jalan setapak yang membelah sawah, terlihat beberapa warga berjalan tergesa-gesa. Ada Mak Tini dengan keranjang di kepala, mungkin buru-buru pulang sebelum hujan. Ada Kang Sarip yang menarik gerobak dagangannya, menutupi dagangan dengan plastik seadanya. Mereka semua punya tujuan, punya tempat berlindung, punya alasan untuk bergerak cepat. Aku? Aku di sini, duduk, menunggu hujan, menunggu istri pulang, menunggu waktu berlalu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Dulu Aku membangun rumah orang&#8230; sekarang Aku yang disuruh bersih-bersih rumah sendiri.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku, tanpa direncanakan. Aku bicara pada kucing yang setengah tidur, pada angin yang bertiup, pada langit yang muram. Atau mungkin bicara pada diriku sendiri\u2014karena siapa lagi yang mau mendengar curhatan laki-laki seperti Aku?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kucing itu membuka matanya sebentar, mengeong pelan, lalu tidur lagi. Tidak tertarik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tiga belas tahun. Angka yang tidak terasa panjang ketika dijalani, tapi terasa sangat jauh ketika dikenang. Tiga belas tahun lalu, Aku masih muda. Muda dalam arti sesungguhnya: umur dua puluh lima, fisik prima, semangat membara, dan keyakinan bahwa dunia ini bisa ditaklukkan dengan cetok dan cangkul.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tiga belas tahun lalu, tanganku ini akrab dengan cangkul, cetok, dan benang bangunan. Setiap pagi, tanpa perlu dibangunkan, Aku sudah bangun sebelum subuh. Mandi air sumur yang dinginnya menusuk tulang, sarapan nasi goreng sisa kemarin, lalu berangkat ke proyek dengan sepeda ontel butut yang remnya hanya hiasan. Di proyek, Aku bekerja di bawah terik matahari yang menyengat tengkuk. Keringat mengalir deras, membasahi baju, bercampur dengan debu dan kapur. Kulitku hitam legam\u2014bukan hitam karena keturunan, tapi hitam karena setiap hari digoreng matahari. Tapi Aku bangga. Bangga karena setiap tetes keringat adalah bukti bahwa Aku laki-laki. Bahwa Aku bisa mencari nafkah. Bahwa Aku punya harga diri yang utuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekarang? Ototku masih ada. Masih kekar, masih keras, masih bisa diandalkan untuk mengangkat beban berat. Tapi lebih sering dipakai untuk apa? Untuk mengaduk sabun cuci piring. Untuk memeras baju yang baru dicuci. Untuk mengangkat panci dari kompor\u2014panci yang isinya lebih ringan daripada sekarung semen, tapi tanggung jawabnya entah kenapa terasa jauh lebih berat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku melihat kedua telapak tanganku. Masih kasar, masih penuh kapalan. Tapi kapalan ini sekarang lebih sering terkena deterjen daripada terkena pasir dan batu. Kadang di malam hari, saat sedang mencuci piring, Aku membayangkan tangan ini sedang mengecor tembok. Membayangkan suara cetok mengaduk semen, suara palu memukul Aku, suara para tukang bersenda gurau di bawah terik matahari. Lalu Aku tersadar\u2014yang kudengar hanya suara air keran dan gesekan spons di piring kotor.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istriku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perempuan yang dulu kupuja dengan puisi-puisi konyol di tembok proyek. Perempuan yang dulu kulihat pertama kali saat ia lewat dengan toga di tangan, menunggu angkot di pinggir jalan. Perempuan yang dulu kuberaniin menyapa dengan suara terbata-bata. Perempuan yang dulu kutransfer uang kuliah\u2014salah transfer, tapi untung balik lagi. Perempuan yang dulu kunikahi dengan mahar seperangkat alat sholat dan cincin perak dari toko loak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perempuan yang sama, sekarang menjelma menjadi sesuatu yang berbeda. Bukan berbeda secara fisik\u2014ia tetap cantik, tetap anggun, bahkan semakin berwibawa. Tapi perannya berubah. Ia kini manajer keuangan, direktur operasional, dan kepala negara rumah tangga yang absolut. Ia yang menentukan anggaran belanja bulanan. Ia yang memutuskan kapan harus beli beras, kapan harus nabung, kapan boleh jajan di luar. Ia yang membuat jadwal, memberi perintah, mengevaluasi kinerja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan Aku? Aku adalah menteri tanpa portofolio. Tugas utamaku: menjalankan perintah dengan baik dan benar. Menyetrika bajunya. Memasak untuknya. Membereskan rumah untuknya. Menjadi &#8220;orang di rumah&#8221; yang memastikan semuanya beres saat ia pulang dari kantor.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dulu, waktu pertama kali kami menikah, ada janji yang terucap. &#8220;Kita berdua,&#8221; kataku waktu itu, &#8220;akan sama-sama berjuang.&#8221; Tapi kenyataan bicara lain. Perjuangan tidak selalu berbentuk sama. Kadang satu orang harus maju lebih dulu, sementara yang lain menopang dari belakang. Itulah yang terjadi pada kami. Ia maju. Aku menopang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi kadang, di malam-malam sepi seperti ini, Aku bertanya pada diri sendiri: apakah menopang berarti kehilangan arah? Apakah membantu berarti menghilang?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hujan mulai turun. Rintik-rintik kecil jatuh di atap genting, menciptakan irama yang menenangkan. Bau tanah basah meresap ke hidung, bercampur dengan aroma kopi dari rumah sebelah. Kucing belang tiga itu akhirnya bangun, meregangkan badan, lalu loncat dari pagar dan berlari menghilang di balik semak-semak. Mencari tempat berteduh, mungkin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku masih duduk di teras, meskipun air mulai membasahi ujung sandal jepitku. Tidak bergerak. Tidak juga berniat masuk ke dalam. Biar saja. Biar hujan ini membasahi, sekalian membasahi hati yang kadang kering kerontang oleh kebingungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Dulu Aku membangun rumah orang,&#8221; bisikku lagi, kali ini lebih pelan, hampir seperti doa. &#8220;Sekarang Aku yang disuruh bersih-bersih rumah sendiri.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi jangan salah. Ini bukan cerita tentang suami lemah. Ini bukan cerita tentang laki-laki yang kehilangan harga diri. Ini bukan cerita tentang bagaimana seorang istri menjadi tiran dan suami menjadi budak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini cerita tentang cinta yang beradaptasi. Cinta yang tidak kaku. Cinta yang tidak memaksa keadaan sesuai keinginan. Cinta yang menerima bahwa kadang kita harus berubah, harus menyesuaikan, harus melakukan hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini cerita tentang bagaimana seorang tukang bangunan belajar bahwa membangun rumah tangga jauh lebih rumit daripada membangun rumah beton.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rumah beton hanya butuh fondasi yang kuat, tiang yang tegak, atap yang rapat. Rumah tangga butuh fondasi pengertian, tiang kesabaran, dan atap ketulusan yang melindungi dari segala macam badai\u2014termasuk badai gosip desa, badai ekonomi, badai peran yang bertukar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di luar, hujan semakin deras. Aku akhirnya berdiri, meraih tumpukan baju put di pojok teras. Terlambat. Semua sudah basah. Baju-baju itu akan kujemur lagi besok, dan besok lagi, dan mungkin akan tetap put selamanya. Seperti hidup ini\u2014kadang salah proses, tapi harus terus dijalani.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku membawa baju-baju itu masuk ke rumah. Menaruhnya di keranjang, di samping panci gosong yang masih setia menunggu dicuci. Lalu Aku duduk di ruang tamu, di sofa yang sama setiap hari kududuki, dan memandang keluar jendela.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hujan mengguyur Desa Awan Biru dengan derasnya. Sawah-sawah akan kebanjiran, jalan setapak akan becek, anak-anak akan senang bermain hujan. Dan Aku? Aku akan tetap di sini. Menunggu istri pulang. Menyiapkan handuk kering untuknya. Membuatkan minuman hangat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itulah tugasku sekarang. Bukan tugasku satu-satunya, tapi salah satu dari banyak tugas yang membuatku bertanya-tanya: bagaimana bisa begini?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ah, sudahlah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Biarkan Aku bercerita dari awal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Suara pintu pagar dibuka dari luar memecah lamunanku. Aku menoleh. Di tengah derasnya hujan, terlihat sosok istriku berlari kecil, tas digendong erat, payung yang ia bawa sudah tidak mampu menahan guyuran air. Blus kerjanya\u2014blus yang dulu putih, sekarang\u2014basah kuyup menempel di tubuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Mas! Buka pintu!&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku bergegas ke pintu, membukanya lebar. Ia melompat masuk, mengguncang-guncang tubuh seperti Kucing habis kehujanan. Air percik ke mana-mana, membasahi lantai yang baru Aku pel dua jam lalu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Ya ampun, deras banget hujannya!&#8221; ia menghela napas, menaruh tas di kursi, lalu melepas sepatu hak tingginya dengan gerakan terburu-buru. &#8220;Mas, kok baju-baju di teras basah? Kan sudah kering tadi!&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku menggaruk kepala. &#8220;Iya&#8230; belum sempat angkat.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Belum sempat? Mas, kamu dari jam 3 di rumah. Hujan turun jam 4 lewat. Satu jam lebih kamu diem aja liatin baju?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Santai, Dik. Anggap aja lagi dicuci ulang.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istriku menghela napas panjang\u2014helaan napas khas yang sudah hafal Aku artinya. Campuran antara lelah, gemas, dan pasrah. Ia melepas blus kerjanya di kamar, berganti dengan daster rumah yang nyaman. Rambutnya yang basah diikat asal-asalan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Aku lapar, Bang. Ada masakan?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku diam. Wajahku pasti langsung berubah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Jangan bilang&#8230; belum masak?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Aku udah masak, Dik.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Masak apa?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Nasi.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Nasi doang?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Ya&#8230; sama air.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istriku menatapku. Lama. Lalu ia berjalan ke dapur, membuka tutup panci. Ia melihat nasi yang sudah dingin\u2014dingin sejak jam 5 sore\u2014dan air minum di teflon yang memang Sengaja kupanaskan tapi lupa kuangkat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Ini&#8230; makanannya?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Lauknya lupa.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Lupa?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Lupa beli. Tadinya mau ke warung Pak Karyo, tapi hujan.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Mas, hujan turun jam 4. Sekarang jam setengah 6. Satu setengah jam kamu di rumah, nggak mikir untuk ke warung meskipun hujan? Pak Karyo kan warungnya deket, tinggal lari.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Hujan deres, Dik. Nanti Aku masuk angin.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istriku menutup panci dengan suara agak keras\u2014tidak membanting, tapi cukup jelas menunjukkan kekesalan. Ia mengambil handuk kecil, mengelap rambutnya yang masih basah, lalu duduk di kursi dapur dengan wajah lelah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Bang, duduk sini.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku duduk di hadapannya, seperti anak SD yang dipanggil guru BK. Suasana hening. Hanya suara hujan di luar dan detak jam dinding yang mengisi ruang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Bang, gue capek.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku mengangguk. &#8220;Gue tahu.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Gue kerja dari jam 7 pagi. Rapat mulu. Ngurusin berkara. Ngadepin orang-orang yang kadang nyebelin. Pulang-pulang kehujanan, badan basah, lapar, tapi di rumah&#8230; nggak ada apa-apa.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Maaf, Dik.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Maaf aja cukup?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku diam. Tidak tahu harus jawab apa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Isriku mengusap wajahnya. Ia terlihat lelah\u2014bukan lelah fisik saja, tapi lelah hati. Dadaku sesak melihatnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Bang, gue nggak minta yang aneh-aneh. Gue cuma minta&#8230; ada makanan hangat pas gue pulang. Ada rumah yang rapi. Ada kamu yang&#8230; ada buat gue. Itu aja. Sulit banget?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Gue udah usaha, Dik.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Usaha gimana? Usaha duduk di teras liatin baju basah? Usaha lupa beli lauk? Usaha masak nasi doang?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalimat-kalimat itu menusuk. Bukan karena kasar, tapi karena benar. Aku memang gagal. Gagal memenuhi ekspektasi. Gagal jadi suami yang bisa diandalkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tiba-tiba, sesuatu dalam diriku bangkit. Harga diri yang selama ini terpendam, ego yang selama ini kutahan, keluar juga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Dik, lo tahu nggak, gue juga capek?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istriku mengangkat alis. &#8220;Capek? Capek apa? Kerja? Lo kan di rumah aja.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Nah, itu! &#8216;Lo kan di rumah aja&#8217;. Kayak gampang banget. Gue urus rumah, cuci baju, setrika, sapu, pel, masak\u2014meskipun hasilnya kadang nggak sempurna\u2014tapi gue usaha. Lo pikir itu gampang?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Gue nggak bilang gampang.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Tapi nada lo bilang gitu. &#8216;Lo kan di rumah aja.&#8217; Gue di rumah, tapi bukan berarti gue liburan. Gue kerja. Kerja rumah tangga. Kerja yang nggak ada liburnya. Kerja yang nggak ada lemburan, nggak ada bonus, nggak ada pujian. Cuma&#8230; kritik. Kritik terus.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istriku diam. Matanya melebar sedikit\u2014mungkin kaget, karena jarang-jarang Aku bicara sepanjang ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Gue cuci baju, salah pisah warna. Lo marah. Gue belanja, ketipu, lo marah. Gue masak gosong, lo marah. Gue lupa beli lauk, lo marah. Kapan gue bener, Dik? Kapan lo lihat usaha gue, bukan cuma hasilnya?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Suarku meninggi. Aku sendiri kaget. Tapi sudah terlanjur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istriku berdiri. Ia mendekat, lalu\u2014Aku kira ia akan marah balik\u2014tapi tidak. Ia berlutut di depanku, memegang kedua tanganku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Bang, maaf.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku diam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Maaf kalau selama ini Aku terlalu sibuk sama kerjaan, lupa lihat perjuangan kamu. Maaf kalau Aku sering marah tanpa mikir perasaan kamu. Maaf kalau Aku bikin kamu merasa&#8230; nggak dihargai.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Air mataku meleleh. Tidak bisa kutahan. Tangis laki-laki yang selama ini kupendam, keluar juga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Gue cuma&#8230; gue cuma mau jadi suami yang baik, Dik. Tapi gue nggak tahu caranya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mahdalena memelukku. Dalam pelukannya yang hangat\u2014meskipun bajunya masih basah\u2014Alex merasa aman. Seperti dulu, saat pertama kali kami pacaran, saat Alex merasa paling hebat di dunia karena dicintainya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Kita belajar sama-sama, Bang. Aku belajar ngomong lebih baik. Kamu belajar&#8230; jadi kamu. Kamu yang dulu bikin Aku jatuh cinta. Kamu yang dulu nulis puisi di tembok kontrakanku. Kamu yang salah transfer tapi nggak marah. Kamu yang datang ke wisudaku pake baju sobek. Kamu itu, Bang. Bukan yang lain.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku terisak di pelukannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Dik&#8230; gue takut.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Takut apa?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Takut lo ninggalin gue. Takut lo bosan sama gue yang cuma bisa di rumah. Takut lo nemu laki-laki lain yang lebih&#8230; lebih dari gue.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istriku melepaskan pelukan. Ia menatap mataku dengan serius.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Aku, denger ya. Gue nggak akan ninggalin lo. Gue milih lo dulu, dan gue milih lo sekarang. Lo tukang bangunan? Gapapa. Lo sekarang di rumah? Gapapa. Lo masak gosong? Kita ketawain bareng. Yang penting lo tetep lo. Laki-laki yang gue cintai.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku mengangguk, masih terisak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Sekarang, kita makan apa? Aku laper banget.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku tertawa di tengah tangis. &#8220;Mie instan aja?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Boleh. Tapi lo yang masak. Jangan gosong ya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Janji.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Malam itu, di dapur kecil yang remang, Aku memasak mie instan dengan hati-hati. Istriku duduk di kursi, menemani, sesekali memberi komentar ringan. &#8220;Api kecil aja, Bang. Jangan kebesaran.&#8221; Atau, &#8220;Aduk terus, nanti lengket.&#8221; Atau, &#8220;Wah, udah wangi. Hebat dong.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku tersenyum. Hujan di luar masih deras, tapi di dalam rumah ini, ada kehangatan yang tidak bisa dibasahi air.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah mie matang, kami makan berdua di ruang tamu. Hanya ditemani suara hujan dan TV yang menyala pelan. Tidak banyak bicara, tapi keheningan kali ini berbeda. Nyaman. Penuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Bang,&#8221; kata Istriku di sela-sela mengunyah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Hm?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Besok kita mulai lagi ya. Yang baru. Yang lebih baik.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Gimana caranya?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Kita omongin semuanya. Tugas rumah dibagi yang jelas. Aku juga bantu. Nggak cuma kamu. Nanti kalau Aku pulang capek, kita masak bareng. Atau makan di luar kadang-kadang. Yang penting kita sama-sama.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Lo nggak marah lagi kalau nasi gosong?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Marah sih tetep. Tapi marahnya bercanda.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku tertawa. &#8220;Deal.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kami menyelesaikan mie instan dengan perasaan lebih ringan. Setelah makan, Istriku bersandar di pundakku. Kami memandangi hujan yang mulai reda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Bang.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Hm?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Makasih ya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Makasih kenapa?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Karena lo masih ada. Karena lo masih bertahan. Karena lo nggak pergi.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku mengecup keningnya. &#8220;Lo juga, Dik. Makasih karena lo masih mau sama gue. Suami takut istri kayak gue.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia tertawa. &#8220;Suami takut istri tapi sayang istri. Itu yang penting.&#8221;<strong>*****<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Disusun : Dawai Awan mendung menggantung rendah, berat, seperti menahan beban yang tak terlihat. Awan-awan hitam bergerombol di atas bukit kecil yang mengelilingi desa, berbisik-bisik seolah sedang merencanakan sesuatu. Sesekali angin bertiup, membawa bau tanah basah dan daun kering\u2014tanda bahwa hujan sebentar lagi akan turun. Burung-burung layang-layang terbang rendah, menyapu permukaan sawah yang mulai menguning, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5938,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"slim_seo":{"title":"Suami Sayang Istri - Dawai News.Com","description":"Disusun : Dawai Awan mendung menggantung rendah, berat, seperti menahan beban yang tak terlihat. Awan-awan hitam bergerombol di atas bukit kecil yang mengelilin"},"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"_slim_seo_primary_term_category":776,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[776],"tags":[],"class_list":["post-5890","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fiksi"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":2985,"url":"https:\/\/dawainews.com\/?p=2985","url_meta":{"origin":5890,"position":0},"title":"Mahkota Binokasih Apa itu !","author":"dw","date":"Mei 4, 2026","format":false,"excerpt":"Dawai News, Jawa Barat - Arak-arakan Mahkota Binokasih menjadi salah satu pertunjukkan yang dapat disaksikan masyarakat dalam Kirab Mahkota Binokasih di Kabupaten Sumedang, Sabtu, 2 Mei 2026. Mahkota Binokasih merupakan mahkota Istimewa dan salah satu peninggalan Kerajaan Sumedang Larang yang kini disimpan di Museum Geusan Ulun. Ternyata mahkota yang terbuat\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Daerah&quot;","block_context":{"text":"Daerah","link":"https:\/\/dawainews.com\/?cat=17"},"img":{"alt_text":"Mahkota binokasih","src":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/mahkota-binokasih_169.jpeg?fit=700%2C393&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/mahkota-binokasih_169.jpeg?fit=700%2C393&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/mahkota-binokasih_169.jpeg?fit=700%2C393&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/mahkota-binokasih_169.jpeg?fit=700%2C393&ssl=1&resize=700%2C400 2x"},"classes":[]},{"id":3244,"url":"https:\/\/dawainews.com\/?p=3244","url_meta":{"origin":5890,"position":1},"title":"Karayie Paja Adat Nan Teradat Di Gauang","author":"dw","date":"Mei 26, 2026","format":false,"excerpt":"Disusun Oleh; Dt. Rajo Batipueh Sebelum pelaksanaan \"Karayie paja\" turun mandi itu, keluarga si bayi menentukan terlebih dahulu kapan acara pelaksanaan turun mandi itu dilaksanakan. Sebagaimana biasanya tradisi turun mandi dilaksannakan pada hari ganjil untuk bayi laki dan pada hari genap untuk bayi perempuan. Hari pelaksanaan dilaksanakan dengan menghitung sejak\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Opini&quot;","block_context":{"text":"Opini","link":"https:\/\/dawainews.com\/?cat=14"},"img":{"alt_text":"Eceed20efa017191633cf3d7934c110b 1","src":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/eceed20efa017191633cf3d7934c110b-1-1.jpg?fit=531%2C800&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/eceed20efa017191633cf3d7934c110b-1-1.jpg?fit=531%2C800&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/eceed20efa017191633cf3d7934c110b-1-1.jpg?fit=531%2C800&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x"},"classes":[]},{"id":3316,"url":"https:\/\/dawainews.com\/?p=3316","url_meta":{"origin":5890,"position":2},"title":"Gugah Gambar Garuda Yang Salah, BRIN Minta Maaf","author":"dw","date":"Juni 2, 2026","format":false,"excerpt":"Dawai News, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam akunnya mengunggah gambar Garuda yang salah dalam peringatan Hari Lahir Pancasila. Kaidah gambar Garuda sebagai simbol negara ini sudah diatur dalam Undang-undang yang berlaku. Sebagaimana diketahui, awalnya akun X BRIN mengunggah gambar Garuda untuk memperingati Hari Lahir Pancasila pada\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Nasional&quot;","block_context":{"text":"Nasional","link":"https:\/\/dawainews.com\/?cat=9"},"img":{"alt_text":"Arti lambang garuda pancasila yuk cek penjelasannya 1","src":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/arti-lambang-garuda-pancasila-yuk-cek-penjelasannya-1_169.jpeg?fit=700%2C395&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/arti-lambang-garuda-pancasila-yuk-cek-penjelasannya-1_169.jpeg?fit=700%2C395&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/arti-lambang-garuda-pancasila-yuk-cek-penjelasannya-1_169.jpeg?fit=700%2C395&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/arti-lambang-garuda-pancasila-yuk-cek-penjelasannya-1_169.jpeg?fit=700%2C395&ssl=1&resize=700%2C400 2x"},"classes":[]},{"id":5731,"url":"https:\/\/dawainews.com\/?p=5731","url_meta":{"origin":5890,"position":3},"title":"Kesedihan Dalam Kesunyian","author":"dw","date":"Oktober 3, 2026","format":false,"excerpt":"Disusun Oleh: Dawai Puisi digunakan sebagai wadah untuk menyampaikan perasaan yang mendalam, menceritakan kisah pahit, atau menggambarkan kondisi emosional yang rumit. Dalam puisi bertema kesedihan, pengarang sering menggunakan bahasa metaforis dan imajinatif untuk menyampaikan perasaan dalam bentuk yang lebih dalam. Ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam puisi semacam ini sering kali puitis\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Opini&quot;","block_context":{"text":"Opini","link":"https:\/\/dawainews.com\/?cat=14"},"img":{"alt_text":"004477800 1701927041 Ilustrasi menulis pantun puisi","src":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/004477800_1701927041-Ilustrasi_menulis__pantun__puisi.webp?fit=1200%2C675&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/004477800_1701927041-Ilustrasi_menulis__pantun__puisi.webp?fit=1200%2C675&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/004477800_1701927041-Ilustrasi_menulis__pantun__puisi.webp?fit=1200%2C675&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/004477800_1701927041-Ilustrasi_menulis__pantun__puisi.webp?fit=1200%2C675&ssl=1&resize=700%2C400 2x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/004477800_1701927041-Ilustrasi_menulis__pantun__puisi.webp?fit=1200%2C675&ssl=1&resize=1050%2C600 3x"},"classes":[]},{"id":2415,"url":"https:\/\/dawainews.com\/?p=2415","url_meta":{"origin":5890,"position":4},"title":"Wabup Pasaman: OPD Untuk Agresif Kejar PAD","author":"dw","date":"April 8, 2026","format":false,"excerpt":"Dawai News, Pasaman - Wakil Bupati Pasaman, H. Parulian Dalimunthe, menegaskan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang mengelola pendapatan, untuk agresif dalam mengejar target Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor perikanan. Hal tersebut ditegaskannya saat meninjau langsung Balai Benih Ikan (BBI) di Kecamatan Bonjol dan Tigo Nagari, baru baru ini. Kunjungan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Daerah&quot;","block_context":{"text":"Daerah","link":"https:\/\/dawainews.com\/?cat=17"},"img":{"alt_text":"69d52bc8ee75b","src":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/69d52bc8ee75b.jpg?fit=600%2C400&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/69d52bc8ee75b.jpg?fit=600%2C400&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/69d52bc8ee75b.jpg?fit=600%2C400&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x"},"classes":[]},{"id":5885,"url":"https:\/\/dawainews.com\/?p=5885","url_meta":{"origin":5890,"position":5},"title":"Suami Sering Dinas Luar","author":"dw","date":"Oktober 8, 2026","format":false,"excerpt":"Disusun: Dawai Kopi hitam dan deru mesin taksi di depan pagar selalu menjadi penanda yang sama. Bagi Alya , suara pembeli yang dikunci adalah lagu latar pernikahannya dengan Andra . Sebagai seorang auditor keuangan di sebuah firma multinasional, Andra adalah pria dengan jadwal yang tidak pernah diam di satu kota.\"Hanya\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Fiksi&quot;","block_context":{"text":"Fiksi","link":"https:\/\/dawainews.com\/?cat=776"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p9UIqN-1x0","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/1300820266.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5890","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5890"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5890\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5939,"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5890\/revisions\/5939"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5938"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5890"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5890"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5890"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}