{"id":6476,"date":"2026-11-07T06:00:00","date_gmt":"2026-11-06T23:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/dawainews.com\/?p=6476"},"modified":"2026-11-07T04:49:32","modified_gmt":"2026-11-06T21:49:32","slug":"adat-nan-sabana-adat-minangkabau-dalam-literasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dawainews.com\/?p=6476","title":{"rendered":"Adat Nan Sabana Adat Minangkabau Dalam Literasi"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Disusun Oleh: Dafrizal (Sekretaris Dinas Perpustakan dan Kearipan Kab. Solok)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam kehidupan sehari-hari orang Minangkabau banyak mempergunakan kata adat terutama yang berkaitan dengan pandangan hidup maupun norma-norma yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan masyarakatnya. Kesemuan itu diungkapkan dalam bentuk pepatah, petitih, mamangan, ungkapan-ungkapan dan lain-lain. Sebagai contohnya dapat dikemukakan \u201c\u2026adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah ; adat dipakai baru, kain dipakai usang, adat sepanjang jalan, cupak sepanjang batuang, adat salingka nagari; harato salingka kaum\u2026\u201d, dan lain-lain. Adat adalah \u201cway of life\u201d, dalam pengertian sederhana: \u201cpandangan hidup\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adat Minangkabau adalah bagaimana pandangan hidup orang Minangkabau, dengan pandangan hidup itu mereka menjalani kehidupan. Manusia hidup di muka bumi memiliki pandangan hidup: terhadap diri dan Tuhan-nya, terhadap alam sekitarnya, terhadap keluarganya, terhadap masyarakatnya, terhadap bangsanya, dan terhadap dunia\/semesta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika kita sudah mengetahui apa yang dimaksud dengan adat ?. Setelah itu, barulah kita menghubungkannya dengan <em>nan sabana adat.<\/em> Akhirnya, akan sampai kepada pengertian <em>adat nan sabana adat.<\/em> Pertanyaan berikutnya yang perlu dijawab: <em>Apa yang dimaksud<\/em> dengan adat nan sabana adat itu ?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adat Nan sabana adat adalah substansi kebaikan yang ada dalam pandangan hidup dan perilaku orang Minang. Pandangan hidup ini disepakati paling kuat dan paling merata mempengaruhi adat Minangkabau. Pandangan hidup substantif ini berlaku universal, maka dicontohkan dengan: adat api mambaka, adat aia mambasahi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sedangkan literasi dalam Adat nan Sabana Adat di Minangkabau bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis teks aksara, melainkan kemampuan membaca, memahami, dan mengamalkan hukum serta hukum alam (ketetapan Allah) yang menjadi sumber tertinggi dari seluruh tatanan adat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bentuk Pemahaman Literasi Adat Nan Sabana Adat<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">1. Literasi Alam <\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alam tidak hanya dipahami sebagai tempat tinggal atau sumber ekonomi, tetapi sebagai <strong>teks hidup<\/strong> yang dibaca, direnungkan, dan dijadikan pedoman etika serta hukum:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Hukum Alam yang Pasti:<\/strong> Mengamati sifat-sifat fisik dan biologis alam sebagai bentuk kebenaran objektif. Contoh pepatah adat: <em>\u201cAdat api mambakari, adat aia mambasahi, adat ayam bakukuak, adat lauik barombak\u201d<\/em>. Api itu membakar, air itu membasahi\u2014ini adalah literasi empiris bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi nyata.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kearifan Ekologis dan Sosial:<\/strong> Masyarakat Minangkabau belajar membaca tanda-tanda alam (musim, cuaca, tanah, flora, dan fauna) untuk menjaga keseimbangan hidup (<em>kelarasan<\/em>). Gunung, sungai, hutan (<em>hutan larangan<\/em>), dan sawah dibaca batas-batas pemanfaatannya agar tidak merusak tatanan hidup.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Inspirasi Perilaku Manusia:<\/strong> Karaktersitik alam diserap menjadi sifat luhur. Contohnya, sifat air yang mengalir ke tempat rendah mencerminkan kerendahan hati (<em>tahu di untuang dan habih<\/em>) atau kokohnya karang dihempas ombak mencerminkan keteguhan prinsip<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2. Literasi Spritual <\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Prinsip <em>Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah<\/em> (ABS-SBK)<\/strong><br>Spiritualitas masyarakat Minangkabau dihilangkan kuat pada nilai-nilai keislaman. Syariat bersumber dari Al-Qur&#8217;an, dan adat menginterpretasikan serta mengamalkan syariat tersebut dalam kehidupan nyata.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Filosofi <em>Alam Takambang Jadi Guru<\/em><\/strong><br>Alam semesta dipandang sebagai kitab yang terbentang luas ( <em>surek indak hilang, guru indak mati<\/em> ). Literasi spiritual di sini berarti kemampuan manusia Minangkabau membaca tanda-tanda, hukum, dan kebijaksanaan penciptaan Tuhan di alam\u2014seperti udara yang memberi hidup, api yang membakar dengan keadilan, atau gunung yang kokoh\u2014sebagai cerminan sifat keilahian. <\/li>\n\n\n\n<li><strong>Karakter &#8220;Adat Babuhua Mati&#8221; (Ikatan yang Tidak Terurai)<\/strong><br>Ketentuan dalam <em>adat nan sabana adat<\/em> merupakan ketetapan Tuhan ( <em>sunnatullah<\/em> ) yang bersifat tetap. Literasi spiritual menuntun manusia pada kepatuhan pada tatanan kosmik dan moral ini, bukan menciptakan aturan yang melawan hukum alam atau hukum agama<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">3. Literasi Flsafah<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Sumber Hukum Mutlak:<\/strong> Adat ini bersumber dari hukum alam ( <em>sunnatullah<\/em> ) dan ketetapan Allah SWT, bukan hasil rekayasa atau kesepakatan manusia. <\/li>\n\n\n\n<li><strong>Sifat Abadi:<\/strong> Berlaku kekal dan tidak lekang oleh waktu, sebagaimana pepatah: <em>&#8220;indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan, diasak indak layua, dibubuik indak mati&#8221;<\/em> (tidak retak oleh panas, tidak lapuk oleh hujan, digeser tidak lay, dicabut tidak mati). <\/li>\n\n\n\n<li><strong>Contoh dalam Kehidupan:<\/strong> Ketentuan mutlak dari alam yang berjalan secara otomatis, seperti <em>adat air membasahi, adat api membakar, adat ayam berkokok pagi hari, dan adat laut berombak<\/em> . <\/li>\n\n\n\n<li><strong>Landasan Alam:<\/strong> Melahirkan falsafah agung <strong>&#8220;Alam takambang jadi guru&#8221;<\/strong> \u2014menjadikan hukum-hukum alam dan fenomena ciptaan Tuhan sebagai pedoman berpikir, berpikir, dan bertindak.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">4. Literasi Kritis<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Membedakan Sumber Mutlak dan Buatan Manusia<\/strong><br>Literasi kritis membantu masyarakat Minang membedakan <em>Adat nan sabana adat<\/em> (hukum Tuhan\/alam yang tidak berubah, seperti api membakar atau air membasahi) dengan <em>Adat nan diadatkan<\/em> atau <em>Adat nan teradat<\/em> yang merupakan hasil kesepakatan sosial dan musyawarah leluhur yang dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman ( <em>Titiak dari diagiahan, konciak dari dibuliah<\/em> ). <\/li>\n\n\n\n<li><strong>Filosofi <em>\u201cAlam Takambang Jadi Guru\u201d<\/em><\/strong><br>Literasi kritis dalam kerangka ini berarti menjadikan alam dan realitas tujuan sebagai sumber ilmu dan bahan renungan ( <em>tadabbur<\/em> ), bukan menerima dogma secara pasif. Orang Minangkabau dituntut membaca ( <em>mengeja<\/em> ) tanda-tanda alam dan sosial secara mendalam sebelum mengambil keputusan. <\/li>\n\n\n\n<li><strong>Menjaga Fleksibilitas Tanpa Kehilangan Akar<\/strong><br>Prinsip <em>&#8220;Buhua mati&#8221;<\/em> (ikatan mati) berlaku untuk prinsip prinsip yang bersumber dari agama dan alam, namun pemahaman terhadap cara pengamalannya di tengah dinamika modern memerlukan nalar kritis agar adat tidak terjebak pada simbolisme kolot, melainkan tetap hidup ( <em>mamakai<\/em> ) menjawab permasalahan zaman. <\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">5. Literai Moral<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Pondasi Etika:<\/strong> Mengajarkan manusia memahami batas benar dan salah yang bersumber dari keteraturan alam dan wahyu.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pembentukan Karakter ( <em>Urang Sabana Urang<\/em> ):<\/strong> Mendorong lahirnya individu yang memiliki rasa malu ( <em>mali<\/em> ), sopan santun ( <em>baso-basi<\/em> ), arif bijaksana, serta menjunjung tinggi budi pekerti.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pedoman Hidup:<\/strong> Menjadi cermin atau pelita ( <em>suluh<\/em> ) yang menuntun tingkah laku sosial, musyawarah, dan tanggung jawab terhadap sesama<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penerapan Adat Nan Sabana Adat dalam literasi di sejalankan dengan syariat dalam konsep &#8220;Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah&#8221;. Sistem ini adalah contoh luar biasa dari pluralisme hukum yang harmonis, di mana tradisi lokal tidak luntur oleh agama, melainkan diperkaya dan disempurnakan. <strong>*****<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Disusun Oleh: Dafrizal (Sekretaris Dinas Perpustakan dan Kearipan Kab. Solok) Dalam kehidupan sehari-hari orang Minangkabau banyak mempergunakan kata adat terutama yang berkaitan dengan pandangan hidup maupun norma-norma yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan masyarakatnya. Kesemuan itu diungkapkan dalam bentuk pepatah, petitih, mamangan, ungkapan-ungkapan dan lain-lain. Sebagai contohnya dapat dikemukakan \u201c\u2026adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6543,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"slim_seo":{"title":"Adat Nan Sabana Adat Minangkabau Dalam Literasi","facebook_image":"https:\/\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/images-3.jpeg","description":"Disusun Oleh: Dafrizal (Sekretaris Dinas Perpustakan dan Kearipan Kab. Solok) Dalam kehidupan sehari-hari orang Minangkabau banyak mempergunakan kata adat terut"},"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_hide_featured_image":false,"_jetpack_featured_image_duplicate_dismissed":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"_slim_seo_primary_term_category":6,"_slim_seo_primary_term_post_tag":184,"footnotes":""},"categories":[14,6],"tags":[184],"class_list":["post-6476","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","category-peristiwa","tag-literasi"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":1872,"url":"https:\/\/dawainews.com\/?p=1872","url_meta":{"origin":6476,"position":0},"title":"Adat Nan Sabana Adat di Nagari Gauang","author":"dw","date":"Maret 3, 2026","format":false,"excerpt":"Disusun Oleh : D. Dt. Rajo Batipueh Adat nan sabana adat adalah kenyataan yang berlaku tetap di alam, tidak pernah berubah oleh keadaan tempat dan waktu. Kenyataan itu mengandung nilai-nilai, norma, dan hukum. Di dalam ungkapan Masyarakat Nagari Gauang dinyatakan sebagai adat nan indak lakang dek paneh, indak lapuak dek\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Opini&quot;","block_context":{"text":"Opini","link":"https:\/\/dawainews.com\/?cat=14"},"img":{"alt_text":"Eceed20efa017191633cf3d7934c110b","src":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/eceed20efa017191633cf3d7934c110b.jpg?fit=531%2C800&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/eceed20efa017191633cf3d7934c110b.jpg?fit=531%2C800&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/eceed20efa017191633cf3d7934c110b.jpg?fit=531%2C800&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x"},"classes":[]},{"id":6425,"url":"https:\/\/dawainews.com\/?p=6425","url_meta":{"origin":6476,"position":1},"title":"Literasi Budaya&#8221;Merawat Warisan dan Budaya Minangkabau","author":"dw","date":"November 3, 2026","format":false,"excerpt":"Disusun Oleh: Dafrizal (Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Solok) Suku Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat, yang memiliki budaya unik dan kaya nilai tradisional. Dari rumah gadang yang megah hingga sistem kekerabatan matrilineal yang khas, budaya Minangkabau menawarkan banyak hal menarik untuk\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Opini&quot;","block_context":{"text":"Opini","link":"https:\/\/dawainews.com\/?cat=14"},"img":{"alt_text":"WhatsApp Image 2026 10 29 at 17.26.02","src":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/WhatsApp-Image-2026-10-29-at-17.26.02.jpeg?fit=1200%2C750&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/WhatsApp-Image-2026-10-29-at-17.26.02.jpeg?fit=1200%2C750&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/WhatsApp-Image-2026-10-29-at-17.26.02.jpeg?fit=1200%2C750&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/WhatsApp-Image-2026-10-29-at-17.26.02.jpeg?fit=1200%2C750&ssl=1&resize=700%2C400 2x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/WhatsApp-Image-2026-10-29-at-17.26.02.jpeg?fit=1200%2C750&ssl=1&resize=1050%2C600 3x"},"classes":[]},{"id":5528,"url":"https:\/\/dawainews.com\/?p=5528","url_meta":{"origin":6476,"position":2},"title":"Wawako Padang: Lomba Baurah Kompetisi Persembahan Adat Minangkabau","author":"dw","date":"September 28, 2026","format":false,"excerpt":"Dawai News, Padang - Lomba Basurah Adat Bawah Payuang merupakan kompetisi pasambahan adat Minangkabau yang berlandaskan Adat Salingka Nagari dengan menampilkan tata cara, prosesi, serta petata-petiti adat. Hal tesrebut disampaikan oleh Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir dalam penutupan Lomba Basurah Adat Bawah Payuang yang berlangsung di samping Gedung Serbaguna\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Daerah&quot;","block_context":{"text":"Daerah","link":"https:\/\/dawainews.com\/?cat=17"},"img":{"alt_text":"FX4W8qyZkrBWlZgyrGnAKrbguZ9vJCxZuzPyszNv","src":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/fX4W8qyZkrBWlZgyrGnAKrbguZ9vJCxZuzPyszNv.jpg?fit=1200%2C679&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/fX4W8qyZkrBWlZgyrGnAKrbguZ9vJCxZuzPyszNv.jpg?fit=1200%2C679&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/fX4W8qyZkrBWlZgyrGnAKrbguZ9vJCxZuzPyszNv.jpg?fit=1200%2C679&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/fX4W8qyZkrBWlZgyrGnAKrbguZ9vJCxZuzPyszNv.jpg?fit=1200%2C679&ssl=1&resize=700%2C400 2x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/fX4W8qyZkrBWlZgyrGnAKrbguZ9vJCxZuzPyszNv.jpg?fit=1200%2C679&ssl=1&resize=1050%2C600 3x"},"classes":[]},{"id":2091,"url":"https:\/\/dawainews.com\/?p=2091","url_meta":{"origin":6476,"position":3},"title":"Mahyeldi, Peringatan Nuzulul Al-Qur&#8217;an Mementum","author":"dw","date":"Maret 9, 2026","format":false,"excerpt":"Dawai News, Sumatera Barat - Peringatan Nuzulul Qur\u2019an merupakan momentum penting untuk kembali mengingat makna dan hikmah turunnya Al-Qur\u2019an kepada umat manusia pada bulan suci Ramadan. Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, dalam kegiatan peringatan Nuzulul Qur\u2019an yang digelar Pemerintah Provinsi Sumbar di Masjid Raya Syekh\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Daerah&quot;","block_context":{"text":"Daerah","link":"https:\/\/dawainews.com\/?cat=17"},"img":{"alt_text":"648998486 1393752069465688 4873907580083380345 n","src":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/648998486_1393752069465688_4873907580083380345_n.jpg?fit=600%2C400&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/648998486_1393752069465688_4873907580083380345_n.jpg?fit=600%2C400&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/648998486_1393752069465688_4873907580083380345_n.jpg?fit=600%2C400&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x"},"classes":[]},{"id":3157,"url":"https:\/\/dawainews.com\/?p=3157","url_meta":{"origin":6476,"position":4},"title":"Mahyeladi: Jabatan Penghulu Adalah Amanah","author":"dw","date":"Mei 19, 2026","format":false,"excerpt":"Dawai News, Sumatera Barat - Jabatan panghulu bukan sekadar simbol adat atau gelar kebesaran kaum, tetapi amanah besar untuk menjaga marwah nagari sekaligus membina generasi muda Minangkabau di tengah derasnya arus perubahan sosial. Hal tesrebut disampaikan Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi saat menghadiri prosesi Batagak Pangulu Zulhamdi Nova Candra IB, A.Md\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Daerah&quot;","block_context":{"text":"Daerah","link":"https:\/\/dawainews.com\/?cat=17"},"img":{"alt_text":"701586164 1452499143590980 8307241768833347021 n","src":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/701586164_1452499143590980_8307241768833347021_n.jpg?fit=600%2C400&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/701586164_1452499143590980_8307241768833347021_n.jpg?fit=600%2C400&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/701586164_1452499143590980_8307241768833347021_n.jpg?fit=600%2C400&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x"},"classes":[]},{"id":2309,"url":"https:\/\/dawainews.com\/?p=2309","url_meta":{"origin":6476,"position":5},"title":"Sako Adat Nan Di Adatkan Di Gauang","author":"dw","date":"April 6, 2026","format":false,"excerpt":"Disusun Oleh : Dt. Rajo Batipueh Sako artinya warisan yang tidak bersifat benda seperti gelar pusako. sako juga berarti asal, atau tua, seperti dalam kalimat berikut. Sako dalam pengertian adat Gauang adalah segala kekayaan asal atau harta tua berupa hak atau kekayaan tanpa wujud. Kekayaan yang in material ini disebut\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Opini&quot;","block_context":{"text":"Opini","link":"https:\/\/dawainews.com\/?cat=14"},"img":{"alt_text":"Eceed20efa017191633cf3d7934c110b","src":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/eceed20efa017191633cf3d7934c110b-1-1.jpg?fit=531%2C800&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/eceed20efa017191633cf3d7934c110b-1-1.jpg?fit=531%2C800&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/eceed20efa017191633cf3d7934c110b-1-1.jpg?fit=531%2C800&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x"},"classes":[]}],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p9UIqN-1Gs","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/dawainews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/images-3.jpeg?fit=452%2C678&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6476","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6476"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6476\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6544,"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6476\/revisions\/6544"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6543"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6476"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6476"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dawainews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6476"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}