Kam. Okt 8th, 2026

Kasih Ibu Sepanjang Masa

Indahnya Sentuhan Ibu
ilustrasi

Disusun Oleh: Dawai

Ibu merupakan sosok luar biasa yang memberikan peran besar dalam keluarga. Selain menjadi Ibu seorang wanita juga berperan dalam berbagai posisi seperti istri anak teman hingga guru bagi anak-anaknya. Keberadaannya tidak hanya menciptakan hubungan yang erat dalam keluarga tetapi juga memberikan kontribusi yang besar terhadap pembentukan karakter anak-anak.

Islam memberikan penghargaan terhadap peran seorang ibu sebagaimana tertulis di dalam Surah Luqman Ayat 14
“ Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah memeluk dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku (kamu) kembali” . Ayat ini menggambarkan betapa Islam ini memberikan penghargaan dan penghargaan terhadap peran Ibu mulai ketika ia mengandung sampai mendidik dan membesarkannya.

Dalam kitab Adab al-Mufrad, bahwa Imam al-Bukhari memasukkan sebuah riwayat yang menceritakan seorang ibu dan dua anaknya.   حدّثنا مسلم ين إبراهيم قال: حدّثنا ابن فُضالة قال: حدّثنا بكر ابن عبد الله المزنّي عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَأَعْطَتْهَا عَائِشَةُ ثَلَاثَ Pengoperasian Perangkat Keras yang Dapat Diandalkan وَأَمْسَكَتْ لِنَفْسِهَا تَمْرَةً، فَأَكَلَ الصِّبْيَانُ إِلَى أُمِّهِمَا، فَعَمَدَتْ إِلَى Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan تَمْرَةٍ، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ فَقَالَ: (وَمَا يُعْجِبُكَ مِنْ ذَلِكَ؟ لَقَدْ رَحِمَهَا اللَّهُ بِرَحْمَتِهَا صبييها) ـ  Artinya: Diceritakan oleh Muslim bin Ibrahim, diceritakan oleh Ibnu Fudlalah, diceritakan oleh Bakr bin Abdullah al-Muzanni, dari Anas bin Malik: Datang seorang perempuan kepada Aisyah Radliyallahu ‘Anha (meminta-minta), Aisyah memberikan tiga butir kurma (karena hanya itu yang dimilikinya). Perempuan itu memberi masing-masing anaknya satu butir kurma, dan menyimpan sebutir lainnya untuk dirinya sendiri. Setelah kedua memakan kurma (pemberian Aisyah), keduanya menatap ibunya. Sang ibu mengambil kurma (jatahnya) kemudian membelahnya. Ia memberi masing-masing bagian kurma tersebut. Tak berselang lama, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam datang.

Aisyah menceritakan peristiwa (yang baru saja disaksikannya). Lalu Rasulullah bersabda: Apa yang mengejutkanmu dari itu? Sungguh Allah telah merahmati ibu tersebut karena kasih sayangnya kepada anaknya . (Imam al-Bukhari, Adab al-Mufrad, Kairo: Darul Basyar al-Islamiyyah, 1989, halaman: 45) 

Suatu hari, Abu Hurairah berjalan keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Selama perjalanan, keduanya tidak berbicara. Sesampainya di pasar Bani Qainuqa, Rasulullah duduk di pekarangan Fatimah, lalu berkata: “Apakah ada anak-anak di sana?” Tidak lama kemudian, datanglah seorang anak kecil menghampiri Rasulullah, lalu beliau pun memeluk dan menciumnya sambil berdoa: “Ya Allah… sayangilah dia dan sayangi pula orang yang menyayanginya” (HR. Bukhari)

Tuntutan sebagai orang tua masa kini, tentu berbeda dengan masa sebelumnya. Masa yang semakin berkembang dan era globalisasi masa kini, menuntut orang tua untuk memiliki penghasilan yang lebih dalam memberikan pendidikan yang sesuai bagi putra-putrinya. Sehingga banyak orang tua yaitu ayah dan ibu akhirnya memutuskan untuk bersama-sama mencari nafkah bagi keluarganya.

Waktu-waktu yang sedianya harus banyak bersama anak, malah sering digunakan di luar rumah untuk bekerja. Waktu-waktu bersama anak semakin terbatas. Terutama bagi seorang ibu, yang seharusnya berperan sebagai “ Al Madrasatul Ula ” bagi putra-putrinya. Kontak fisik pada anak yang seharusnya diberikan oleh ibu, dialihkan pada pembantu atau Baby Sitter. Pelukan dan mencium ibu pada anak semakin terbatas dan mahal.

William Sears ( Attachment Parenting , 2009), berpendapat bahwa keberhasilan seorang anak tumbuh dan berkembang secara optimal dalam semua aspek perkembangan sangat bergantung pada keterikatan yang terjalin antara anak dengan orang tuanya. Tidak hanya salah satu aspek, tapi semua aspek perkembangan anak.

Menurut Erik Erikson, tokoh Psikologi Perkembangan dengan teori psikososialnya bahwa orang tua yang menggunakan sentuhan pada anak sebagai cara menyalurkan rasa sayangnya akan meningkatkan keterikatan yang sehat pada anak.

Walaupun anak terus tumbuh menjadi dewasa, namun sentuhan yang konsisten yang dilakukan orang tua pada mereka khususnya ibu akan membuat mereka merasa aman dan dicintai. Bermain dan melakukan berbagai aktivitas fisik yang banyak melibatkan sentuhan fisik akan sangat bermanfaat dalam membangun kedekatan dan kepercayaan dengan anak.

Sebagai orang tua, putra melihat-putrinya tumbuh dan berkembang secara maksimal dengan kepercayaan diri yang baik adalah sebuah kebahagiaan, anugerah yang indah. Karenanya akan menjadi bekal yang baik kelak ketika dewasa bagi anak. Anak-anak yang tercukupi kebutuhan akan sentuhan dari orang tua, akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi tangguh yang siap dalam menghadapi tantangan-tantangan hidup dijamannya.

Betapa banyak kasus yang terjadi pada orang dewasa, ditentukan oleh pengasuhan optimalnya saat mereka kecil dulu. Mungkin salah satu di antara kita ada yang pernah merasakan sentuhan hikmah dari ibu, bagaimana ketika kita mencapai atau tidak, bagaimana perkembangan kehidupan kita sekarang. Tentu bagi yang kurang mendapatkan sentuhan dari ibu dulu disebabkan minimnya pengetahuan ibu tentang bagaimana seharusnya memperlakukan putra-putrinya pada masa itu.

Harusnya berbeda pada para ibu masa kini, karena bukanlah hal sulit untuk mendapatkan informasi seputar cara mendidik anak, pendidikan kita juga sudah lebih maju, cara pikir dan pola pengasuhan pada anak-anak kita sekarang tentulah harus lebih baik dibandingkan ibu-ibu pada masa dulu. Maka, bukanlah sebuah hal yang harus diabaikan tentang pentingnya sentuhan, peluk dan cium para ibu pada buah hati. Hukum dalam pelaksanaannya dapat menjadi wajib dan keharusan.

Rasulullah SAW adalah sosok yang paling sering memberikan ciuman dan belaian kepada anak-anak. Pada suatu hari, datanglah seorang kepala suku mengunjungi Nabi dan melihat dia sedang mencium cucunya. Dia (kepala suku) mengatakan kepada Nabi SAW, “Saya mempunyai sepuluh orang anak, seorang di antara mereka tidak pernah saya cium”, kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Kalau Allah tidak memberi perasaan kasih sayang, apa yang dapat diperbuat Nya untukmu?”. “Barang siapa yang tidak mempunyai kasih sayang pada orang lain, dia tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Allah”.

Dari peristiwa di atas dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya kasih sayang ibu pada anak. Seorang ibu yang telah mengandung selama sembilan bulan dan melahirkannya, tentulah akan semakin memberikan keindahan hubungan keduanya. Akan hilang rahmat Allah SWT dari orang tua khususnya ibu, ketika ia melalaikan suatu tindakan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya kelak. Tentu bukanlah hal yang kita inginkan.

Sabda Rasulullah SAW yang lain :

“Perbanyaklah kamu mencium anak cucumu, karena ketidakseimbangan dari setiap ciuman adalah surga”. (HR.Bukhari). ****

dw

By dw

Related Post

Tinggalkan Balasan