Dawai News, Jakarta – Perjanjian gencatan senjata baru dengan Syrian Democratic Forces (SDF) atau Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin oleh kelompok Kurdi di umumkan oleh Pemerintah Suriah, selama bertahun tahun menguasai wilayah luas di timur dan timur laut Suriah.
Sepanjang akhir pekan, militer Suriah dilaporkan mengambil alih sejumlah lokasi strategis, termasuk ladang minyak dan gas yang sebelumnya dikuasai SDF.
Menurut kesepakatan tersebut, pemerintah pusat Suriah akan memperoleh akses ke beberapa provinsi di wilayah timur dan timur laut negara itu. Kesepakatan itu juga mencakup rencana integrasi penuh SDF ke dalam Kementerian Pertahanan dan Kementerian Dalam Negeri Suriah, seperti dilaporkan kantor berita pemerintah SANA.
Kesepakatan gencatan senjata ini tercapai setelah dua hari bentrokan baru di wilayah timur Suriah. Dalam bentrokan tersebut, tentara Suriah berhasil mengusir SDF dari sejumlah wilayah di Suriah utara dan timur laut yang telah dikuasai kelompok itu selama lebih dari satu dekade.
Pada Minggu (18/01), pemerintah Suriah juga mengumumkan telah merebut kota strategis Tabqa, yang berlokasi sekitar 55 kilometer di barat Raqqa. Kota tersebut sebelumnya berada di bawah kendali SDF.
Presiden Interim Suriah Ahmed al-Sharaa pada Minggu (18/01) menyatakan dukungannya terhadap “persatuan dan kedaulatan Suriah atas seluruh wilayahnya.”
Dalam pertemuan dengan utusan khusus Amerika Serikat (AS) untuk Suriah, Tom Barrack, di Damaskus, tak lama sebelum pengumuman gencatan senjata, al-Sharaa menegaskan pentingnya dialog serta upaya membangun kembali Suriah “dengan partisipasi seluruh rakyat Suriah.”
Di tengah perkembangan ini, Presiden Interim Suriah Ahmad al-Sharaa menunda rencana kunjungannya ke Berlin. Ia semula dijadwalkan tiba di Jerman pada Senin (19/01) dan menggelar pertemuan dengan Kanselir Friedrich Merz serta para pemimpin dunia usaha Jerman pada Selasa (20/01).
Al-Sharaa juga dijadwalkan bertemu Mazloum Abdi, pemimpin SDF, pada Minggu (18/01) setelah kesepakatan gencatan senjata antara SDF dan pemerintah Damaskus tercapai. Namun, al-Sharaa mengatakan kepada wartawan bahwa Abdi tidak dapat melakukan perjalanan ke Damaskus karena cuaca buruk dan baru akan menemuinya pada Senin (19/01).
Pemimpin Kurdi konfirmasi gencatan senjata
Mazloum Abdi, komandan tertinggi SDF, mengonfirmasi kesepakatan gencatan senjata tersebut dalam pidato yang disiarkan televisi pada Minggu (18/01) malam.
“Untuk mencegah perang ini berubah menjadi perang saudara… kami menerima keputusan untuk menarik diri dari wilayah Deir el-Zour dan Raqqa menuju Hasakeh,” kata Abdi dalam pernyataan yang disiarkan oleh saluran televisi Kurdi Ronahi.
“Kami akan menjelaskan rincian kesepakatan ini kepada rakyat kami dalam beberapa hari ke depan,” tambahnya.
AS sambut gencatan senjata
Amerika Serikat menyambut baik kesepakatan gencatan senjata tersebut. Tom Barrack, utusan khusus AS untuk Suriah, menyebutnya sebagai “titik balik yang krusial.”
“Presiden al-Sharaa telah menegaskan bahwa warga Kurdi adalah bagian integral dari Suriah, dan Amerika Serikat menantikan integrasi yang mulus antara mitra historis kami dalam perang melawan ISIS dengan anggota terbaru Koalisi Global, seiring kami melanjutkan perjuangan jangka panjang melawan terorisme,” tulis Barrack di platform X, menggunakan akronim untuk kelompok militan Islamic State.
Barrack juga mengakui bahwa integrasi pasukan pimpinan Kurdi ke dalam struktur negara Suriah merupakan pekerjaan yang “penuh tantangan.” Namun, ia menegaskan Amerika Serikat “berdiri teguh mendukung proses ini di setiap tahap.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Fika Ramadhani
Sumber : Detik
