Disusun Oleh: Dawai
Kehidupan di dunia ini adalah bagian dari perjalanan yang lebih besar menuju akhirat. Islam memberikan panduan yang jelas mengenai makna dan tujuan hidup, yang dapat membawa setiap Muslim menuju kebahagiaan sejati dan keselamatan abadi.
Sedangkan makna hidup dalam Islam berkaitan erat dengan pengakuan akan keberadaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
_”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)._
Ayat ini menjelaskan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Ibadah dalam Islam bukan hanya terbatas pada ritual formal seperti shalat, puasa, atau zakat, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan. Setiap tindakan, perkataan, dan pikiran yang dilakukan dengan niat yang tulus dan ikhlas untuk mencari ridha Allah dianggap sebagai ibadah.
Dengan demikian, makna hidup dalam Islam adalah mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Ini termasuk menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia dan lingkungan, menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab, serta senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah.
Kemudian tujuan hidup dalam Islam mencakup beberapa aspek yang saling berkaitan, yang semuanya mengarah pada satu tujuan utama: mendapatkan ridha Allah dan mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
- Mengabdi kepada Allah:
Seperti yang dijelaskan dalam QS. Adz-Dzariyat: 56, tujuan utama hidup seorang Muslim adalah beribadah kepada Allah. Ini berarti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dalam semua aspek kehidupan, baik dalam ibadah ritual, hubungan sosial, maupun dalam hal-hal kecil sehari-hari.
- Mencari Ridha Allah:
Setiap Muslim dianjurkan untuk menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama dalam setiap tindakan. Ini berarti bahwa dalam setiap perbuatan, seorang Muslim harus mempertimbangkan apakah hal tersebut sesuai dengan ajaran Islam dan apakah itu akan mendatangkan keridhaan Allah.
- Membangun Kehidupan yang Seimbang:
Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Seorang Muslim harus berusaha keras di dunia, mencari rezeki yang halal, memenuhi tanggung jawab sosial, dan menjaga hubungan baik dengan sesama. Namun, semua usaha ini harus dilakukan dengan niat untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan yang lebih kekal di akhirat.
- Menjadi Khalifah di Bumi:
Dalam Islam, manusia diberikan amanah sebagai khalifah atau pemimpin di bumi. Ini berarti bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk memelihara bumi, menjaga keseimbangan ekosistem, dan berperilaku adil terhadap sesama makhluk. Manusia juga harus berusaha menegakkan keadilan, kebenaran, dan kebajikan di muka bumi.
- Mencapai Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat:
Islam tidak hanya berfokus pada kehidupan akhirat, tetapi juga mendorong umatnya untuk mencari kebahagiaan dan kesuksesan di dunia. Namun, kebahagiaan duniawi ini harus diraih dengan cara-cara yang sesuai dengan ajaran Islam, agar dapat mendatangkan kebahagiaan yang lebih besar di akhirat.
Akhirat hidup akiki
Telah melewati suatu masa, pada saat itu manusia belum berwujud sesuatu yang dapat disebut, sehingga Allah berkehendak untuk menciptakan kita. Padahal sebelumnya kita tidak pernah ada. Allah juga memberikan limpahan karunia-Nya, menjauhkan kita dari mara bahaya, memberikan kemudahan dalam menempuh kehidupan, dan memberikan petunjuk-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menerangkan kepada kita segala sesuatu yang bermanfaat dan yang membahayakan. Allah telah menjelaskan, bahwa manusia memiliki dua kehidupan. Yakni kehidupan sementara yang akan segera berlalu, dan kehidupan abadi yang hakiki.
Kehidupan sementara yang segera berlalu, ialah kehidupan dunia. Suatu kehidupan yang tidak terlepas dari kekurangan, kecuali apa-apa yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Kehidupan dunia ini, pada hakikatnya hanyalah sebuah penderitaan. Sedangkan gemerlap dunia yang ditampakkan, sebenarnya hanyalah kekeruhan.
Apabila orang yang berani mau memperhatikan meski hanya sekilas, tentu ia akan mengetahui betapa kecil dan remehnya dunia itu. Sehingga ia pun akan menyadari tipuan daya dunia. Bagi yang memujanya, dunia ini hanyalah fatamorgana yang disangka udara oleh seorang yang kehausan. Tatkala orang yang mengejarnya, ternyata tidak ada sesuatu apapun yang ia dapatkan.
Demikian pula tatkala dunia berhias dengan berbagai perhiasannya dan tampak begitu indah mempesona, maka manusia pun membayangkan akan mewujudkannya. Pada saat itu, datanglah ketetapan Allah yang menimpa mereka di waktu siang dan malam. Kemudian tiba-tiba semuanya musnah, seolah-olah tidak pernah ada sesuatu apapun sebelumnya.
Inilah dunia. Harapan yang ditawarkan hanyalah kesia-siaan dan kebinasaan. Keindahannya hanyalah penderitaan dan kesempitan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang ditipu . [al-Hadîd/57:20].
Sedankan akhirat, itulah kehidupan yang sebenarnya. Sebuah kehidupan yang menyimpan semua pilar kehidupan, baik berupa kekekalan, kebahagiaan dan keselamatan. Inilah hakikat akhirat. Apabila seseorang dapat menyaksikan hakikatnya, tentu ia akan berkata :
يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
Alangkah baiknya kiranya aku terlebih dahulu bekerja (amal shalih) untuk seumur hidup ini . [al-Fajr/89:24].
Inilah kehidupan akhirat. Kehidupan hakiki, tempat manusia akan hidup selamanya, dan tidak akan pernah mati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ
Barang siapa yang berat timbangan (kebaikannya), maka merekalah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang ringan timbangan (kebaikannya)nya, maka merekalah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. Muka mereka membakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat . [al-Mukminûn/23:102-104].
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla. Sebagai seorang mukmin, marilah kita mencoba untuk melihat dan memandang sebagaimana seharusnya seorang mukmin yang berakal. Marilah kita membandingkan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, agar dapat mengetahui dan memahami perbedaan yang sangat jelas antara keduanya.
Dalam kehidupan akhirat terdapat segala kenikmatan yang diidamkan setiap jiwa. Kehidupan akhirat juga menyejukkan setiap tampilan. Ia merupakan Dârus-Salâm, bersih dari segala kekurangan, bebas dari mara bahaya, steril dari penyakit, tidak ada kematian, serta bebas dari segala kesusahan dan kecemasan.
Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
Sungguh tempat mencambuk salah seorang kalian di surga itu lebih baik dari dunia seisinya .
Demikianlah perkataan seorang yang benar dan dapat diterima, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tempat tongkat di surga itu lebih baik daripada dunia secara keseluruhan, dari permulaannya hingga akhirnya, dan dengan segala kesenangan serta kemewahannya. Apabila hal ini saja lebih baik dari dunia seisinya, maka berapakah nilai dunia yang kita dapatkan? Apalagi kesempatan hidup kita hanya sebentar. Bagaimana pula dengan rumah-rumah di surga yang setiap tingkatannya berjarak 2000 tahun perjalanan? Masya Allah.
Sungguh sangat mengherankan jika ada manusia lebih memilih dunia daripada akhiratnya. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
Betapa banyak manusia yang sibuk mengejar dunia dan melupakan akhirat. Mereka bersemangat untuk mendapatkan dunia, meskipun harus dengan meninggalkan kewajiban yang disyariatkan Allah Ta’ala. Mereka kemudian tenggelam dalam kubangan syahwat dan lalai. Mereka lupa bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan segala kenikmatan.
Antara ciri-ciri mereka, yaitu mereka bermalasan menunaikan shalat, merasa berat untuk berdzikir kepada Allah, hidup amanah yang diembannya, suka ditipu saat bermu’amalah, berdusta dalam kata, tidak memenuhi janji, tidak berbakti kepada orang tua, dan tidak mau menyambung tali silaturahmi.
Sesungguhnya, barang siapa yang mendahulukan akhiratnya, maka ia akan mendapatkan kenikmatan akhirat dan kenikmatan dunia sekaligus. Hal ini mudah bagi yang diberi kemudahan oleh Allah Azza wa Jalla . Dan semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah Azza wa Jalla dalam beramal shalih. Karena sesungguhnya, orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah Azza wa Jalla , maka Allah Azza wa Jalla akan menggantinya dengan yang lebih baik dari yang ia tinggalkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang bekerja amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan . [an Nahl/16:97].
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ
Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu . [as-Syûrâ/42:20].
Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mendahulukan akhirat daripada dunia. Limpahkan kebaikan kepada kami di dunia ini, demikian pula di akhirat. Dan jagalah kami dari siksa api neraka
Adapun orang yang mendahulukan kenikmatan dunia, maka ia akan diberikan bagiannya di dunia ini, tetapi di akhirat ia tidak akan mendapatkan bagian apa-apa.
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan di akhirat lenyaplah semua yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan . [Hud/11:15-16].
