Disusun Olah :Dawai
Menyerahkan diri kepada Allah merupakan salah satu aspek dalam kehidupan seorang Muslim. Proses ini mencakup keyakinan, ketundukan serta kepercayaan penuh kepada Allah dalam segala aspek kehidupan.
Dalam menjalani kehidupan, Anda tentu sering berhadapan dengan berbagai tantangan serta cobaan yang menguji iman. Oleh karena itu, sikap sebagai seorang Muslim dalam menghadapi tantangan dan cobaan tersebut adalah dengan berserah kepada Yang Maha Kuasa.
Definisi Berserah Diri kepada Allah
Berserah kepada Allah memiliki arti meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah adalah pengatur segala urusan dan menyerahkan semua hasil usaha kepada-Nya. Hal tersebut bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi mencakup usaha maksimal diiringi keyakinan penuh bahwa Allah akan memberikan hasil terbaik.
Berserah kepada Allah memberikan ketenangan batin serta mental bagi seorang Muslim. Seorang Muslim akan merasa lebih tenang untuk menghadapi berbagai cobaan serta ujian dalam hidup.
Keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi sudah diatur oleh Allah serta merupakan jalan terbaik bagi hamba-Nya, memberikan kekuatan untuk terus berusaha tanpa merasa terbebani oleh hasil yang belum tentu sesuai dengan harapan.
Dalil mengenai berserah diri kepada-Nya tertuang dalam surah Al-Imran ayat 159 yang berarti “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.”
Cara Berserah Diri Kepada Allah
Menghadapi tantangan hidup yang penuh liku, berserah diri kepada Yang Maha Kuasa merupakan langkah penting bagi setiap Muslim. Berserah diri bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan mempercayakan hasil akhir kepada Yang Maha Kuasa setelah berusaha semaksimal mungkin.
Proses ini tidak hanya melibatkan aspek spiritual, tetapi juga mempengaruhi keseharian manusia dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Berikut ini adalah lima cara berserah diri pada Allah dengan sepenuh hati.
1. Perkuat Iman dan Taqwa
Iman bukanlah abstraksi teologis, melainkan kekuatan transformatif yang membentuk realitas. Berikut pengaruhnya: Aspek Kehidupan Pengaruh Iman Jiwa dan Mental Menciptakan ketenangan (thuma’ninah). Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra’d: 28). Iman juga mencegah putus asa dan gelisah. Akal dan Ilmu Iman mendorong manusia untuk berpikir, meneliti, dan mencari ilmu sebagai bukti pengagungan terhadap kebesaran Allah.
Sosial Kemasyarakatan Iman melahirkan sikap ukhuwah (persaudaraan). Seorang mukmin tidak akan menyakiti saudaranya. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim). Etika dan Moral Iman menjadi benteng dari perbuatan keji dan munkar. Semakin kuat iman, semakin kuat pula dorongan untuk jujur, amanah, dan menepati janji. Ibadah Iman menjadikan ibadah tidak sekadar rutinitas, tetapi sebagai kebutuhan ruhani yang dinanti-nantikan. Shalat, puasa, zakat, dan haji menjadi bermakna karena didasari keyakinan kepada Allah.
Landasan Iman dalam Al-Qur’an
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan perintah untuk beriman secara menyeluruh (kaffah). Salah satu ayat yang komprehensif tentang iman adalah QS. an-Nisa’ (4): 136.
QS. an-Nisa’ (4): 136
Arab:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya, Kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa yang kufur kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat dengan kesesatan yang jauh.”
Tafsir Singkat:
Ayat ini unik karena diawali dengan seruan “Yā ayyuhalladzīna āmanū” (wahai orang-orang yang beriman) lalu diperintahkan “āminū” (berimanlah). Ini menunjukkan bahwa iman memiliki tingkatan. Seorang Muslim diperintahkan untuk terus-menerus memperbaharui dan memperkuat imannya, serta mengimani secara rukun iman yang enam (Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan qadha qadar). Kesesatan yang jauh adalah akibat dari mengingkari salah satu rukun iman.
QS. al-Maidah (5): 3
Ayat ini adalah ayat terakhir yang turun kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, mengandung puncak kesempurnaan Islam.
Arab:
…الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا…
Artinya:
“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…” (QS. al-Maidah [5]: 3, potongan ayat)
Tafsir Singkat:
Ayat ini menunjukkan bahwa iman yang benar adalah iman yang menerima Islam secara utuh. Kesempurnaan agama ini terletak pada kesatuan antara iman, Islam (syariat), dan ihsan. Tanpa iman, syariat menjadi ritual kosong. Iman memberikan ruh pada setiap amal ibadah.
Landasan Iman dalam Hadits Nabi
Hadits yang paling masyhur menjelaskan tentang iman adalah Hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab ra.:
Arab:
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ… فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ. قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Artinya:
“Dari Umar ra., ia berkata: Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah shalallahu alaihi wa, tiba-tiba muncul seorang laki-laki berpakaian sangat putih dan berambut sangat hitam… lalu ia bertanya: ‘Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang iman?’ Beliau menjawab: ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.’” (HR. Muslim)
2. Tawakal
Tawakkal adalah ibadah hati yang sangat agung. Para ulama menegaskan, tawakkal bukan sekadar menyerahkan urusan kepada Allah tanpa usaha, tetapi merupakan penggabungan antara usaha maksimal dengan penyandaran hati total kepada Allah.
Sebagaimana keterangan dari Imam Ibnu Qudamah rahimahullah:
اعلَمْ أنَّ التَّوكُّلَ مَأخوذٌ مِنَ الوَكالةِ، يُقالُ: وكَلَ فُلانٌ أمرَه إلى فُلانٍ، أي: فوَّضَ أمرَه إليه، واعتَمَدَ فيه عليه.
فالتَّوكُّلُ عِبارةٌ عنِ اعتِمادِ القَلبِ على الموكَّلِ، ولا يَتَوكَّلُ الإنسانُ على غَيرِه إلَّا إذا اعتَقدَ فيه أشياءَ: الشَّفَقةُ، والقوَّةُ، والهدايةُ.
“Ketahuilah bahwa tawakal berasal dari kata wakālah (perwakilan). Dikatakan: “Si Fulan mewakilkan urusannya kepada si Fulan,” artinya ia menyerahkan urusannya kepadanya dan bergantung kepadanya dalam hal itu. Maka tawakal adalah bersandarnya hati kepada pihak yang dijadikan sandaran. Seseorang tidak akan bertawakal kepada yang lain kecuali jika ia meyakini adanya tiga hal pada dirinya: kasih sayang, kekuatan, dan petunjuk.” (Mukhtashor Minhaj Al-Qosidin, hal. 332)
Hati bergantung kepada Tuhan yang berada di atas langit, sementara ikhtiar yang kuat berada di bumi. Allah Ta’ala berfirman:
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Hanya kepada Allah-lah hendaknya kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang beriman.” (QS. Al-Māidah: 23)
Ayat ini menunjukkan bahwa tawakkal adalah bukti keimanan yang hakiki.
Ditambah lagi jika ibadah tawakkal bergabung dengan takwa, maka Tawakka hajat hidupnya baik urusan dunia maupun akhirat akan terwujud dengan mudah penuh kelapangan. Betapa banyak hamba yang menyerahkan urusannya kepada Allah, lalu Allah pun mencukupinya dari segala yang merisaukannya. Allah Ta‘ala berfirman:
ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب ومن يتوكل على الله فهو حسبه
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3).
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa tawakkal ada dua macam: tawakkal dalam urusan dunia dan tawakkal dalam urusan akhirat (Al-Fawaid, 1/125-126).
1. Tawakkal dalam Urusan Dunia
Yaitu bersandar kepada Allah untuk mendapatkan kebutuhan duniawi dan menghindarkan diri dari musibah. Allah memerintahkan kita agar mencari rezeki, tetapi tetap menyandarkan hati hanya kepada-Nya:
فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Maka carilah rezeki di sisi Allah, sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al-‘Ankabūt: 17)
Nabi ﷺ juga bersabda tentang burung sebagai contoh makhluk yang bertawakkal dalam urusan dunia:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar, lalu pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2344; hasan sahih)
Hadis ini menunjukkan bahwa tawakkal dalam urusan dunia harus disertai usaha, bukan diam pasif.
2. Tawakkal dalam Urusan Agama
Inilah tawakkal yang paling agung, lebih afdol daripada tawakkal dalam urusan duniawi. Yaitu bersandar kepada Allah untuk meraih maslahat-maslahat di akhirat, seperti hidayah, menegakkan iman, menunaikan jihad, dan mendakwahkan agama-Nya dll. Allah Ta’ala berfirman:
رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Ya Rabb kami, hanya kepada-Mu kami bertawakkal, hanya kepada-Mu kami bertaubat, dan hanya kepada-Mulah tempat kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Doa ini adalah doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalām bersama orang-orang beriman yang menjadikan tawakkal sebagai sandaran utama dalam urusan agama.
Demikian pula, Allah menegaskan perintah tawakkal kepada Nabi ﷺ dalam perjuangan dakwah:
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Jika mereka berpaling, maka katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Rabb ‘Arsy yang agung.’” (QS. At-Taubah: 129)
Bahkan Allah menjadikan tawakkal sebagai syarat kemenangan dalam jihad:
إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَنْ يَكْفِيَكُمْ أَنْ يُمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلَاثَةِ آلَافٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُنزَلِينَ، بَلَى إِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ آلَافٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ، وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُم بِهِ ۗ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
“(Ingatlah) ketika engkau (wahai Nabi) berkata kepada orang-orang beriman: ‘Apakah tidak cukup bagi kalian bahwa Allah membantu kalian dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan?’ Bahkan jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya Allah akan menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang mempunyai tanda. Dan Allah tidak menjadikannya kecuali sebagai kabar gembira bagi kalian, agar hati kalian tenteram karenanya. Kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Āli ‘Imrān: 124–126)
Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan dalam urusan agama bukan karena jumlah dan kekuatan, tetapi karena tawakkal yang disertai sabar dan takwa.
Perbedaan Tingkatan Tawakkal
Siapa tawakkalnya hanya sebatas urusan dunia, Allah tetap mencukupinya, sebagaimana janji-Nya:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talāq: 3)
Namun, orang yang tawakkalnya untuk urusan agama, Allah akan mencukupinya di dunia dan meninggikannya di akhirat. Karena itulah Rasulullah ﷺ mengajarkan tawakkal yang agung dalam doa beliau:
اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْ تُضِلَّنِي، أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ، وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ
“Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakkal, kepada-Mu aku kembali, dan dengan-Mu aku berdebat. Ya Allah, aku berlindung kepada kemuliaan-Mu, tiada ilah kecuali Engkau, dari kesesatan. Engkau Mahahidup yang tidak mati, sementara jin dan manusia semuanya akan mati.” (HR. Muslim, no. 2717). ******
