Disusun: Dawai
Kopi hitam dan deru mesin taksi di depan pagar selalu menjadi penanda yang sama. Bagi Alya , suara pembeli yang dikunci adalah lagu latar pernikahannya dengan Andra . Sebagai seorang auditor keuangan di sebuah firma multinasional, Andra adalah pria dengan jadwal yang tidak pernah diam di satu kota.”Hanya lima hari, Sayang. Kali ini ke Balikpapan,” kata Andra pagi itu, merapikan kerah kemejanya sebelum mengecup kening Alya.Alya tersenyum, tipe senyum yang sudah ia latih selama tiga tahun pernikahan mereka. Senyum yang berarti: Aku mengerti, aku mendukungmu, dan aku akan baik-baik saja di rumah ini. Sendirian.
Sunyinya Meja Makan
Saat pintu depan tertutup, rumah tipe 45 tiba-tiba kehilangan jiwa. Bagian tersulit dari memiliki suami yang sering dinas luar bukan saat siang hari ketika Alya sibuk bekerja sebagai desainer grafis lepas. Bagian tersulit adalah pukul tujuh malam.Alya menatap meja makan. Hanya ada satu piring, satu sendok, dan kenyamanan yang riuh.Ia menyalakan televisi hanya agar ada suara manusia di latar belakang. Ponselnya bergetar, sebuah pesan singkat dari Andra:
Sudah mendarat. Langsung ke lokasi proyek. Jangan lupa makan malam ya.Alya mengetik balasan cepat, mengingatkan suaminya untuk tidak telat minum air putih. Percakapan mereka akhir-akhir ini berubah menjadi deretan instruksi logistik dan perhatian-perhatian pendek yang efisien.
Jarak yang Mengikis
Bulan berganti bulan, penugasan Andra justru semakin padat. Dari Balikpapan ke Medan, lalu langsung terbang ke Jayapura. Rumah mereka tak ubahnya seperti hotel transit bagi Andra. Ia datang untuk mencuci baju kotor, tidur nyenyak selama dua malam, lalu mengemas kembali kopernya dengan baju-baju yang baru disetrika Alya.Suatu malam, saat Andra pulang setelah dua minggu berada di luar Jawa, Alya mencoba memasak makan malam yang spesial. Ia menyalakan lilin aromaterapi dan mengenakan gaun yang manis.Namun, Andra pulang dengan kantung mata yang menghitam dan pundak yang merosot.“Bagaimana proyeknya, Mas?” tanya Alya lembut saat mereka duduk di sofa.Andra menghela napas panjang, memijat pelipisnya. “Melelahkan, Al. Ada masalah miskalkulasi anggaran dari tim lapangan. Aku pusing setengah mati.”Alya menggeser duduknya, bermaksud memijat pundak sang suami. “Mau cerita?”Andra menggeleng kecil sambil memejamkan mata. “Aku terlalu lelah untuk bicara pekerjaan lagi, Al. Maaf ya.” Tak lama kemudian, Andra tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala.Alya menarik tangannya kembali. Ia menatap wajah suaminya yang terlelap. Ada rasa bersalah yang mengaku di hati Alya karena merasa kesepian, padahal ia tahu suaminya bekerja keras demi masa depan mereka. Namun, di sudut hatinya yang lain, Alya merasa mereka berdua perlahan-lahan berubah menjadi dua orang asing yang kebetulan berbagi alamat rumah yang sama.
Titik Balik
Puncaknya terjadi pada hari ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Andra sudah berjanji jauh-jauh hari untuk mengosongkan jadwal. Alya sudah memesan tempat di restoran favorit mereka.Sore hari menjelang makan malam, telepon Alya berdering. Nama Andra tertera di layar. Jantung Alya mencelos, ia sudah tahu apa artinya ini sebelum tombol hijau digeser.”Al… aku minta maaf banget,” suara Andra terdengar panik dan penuh sesal di seberang sana. “Pabrik di Surabaya menandatangani kerja. Saya harus mendampingi tim hukum ke sana malam ini juga. Tiket pesawat sudah dicetak kantor.”Alya menjawab. Tidak ada air mata, tidak ada ledakan amarah. Hanya ada rasa hampa yang dingin.”Al? Kamu marah? Tolong mengerti, ini darurat,” bujuk Andra.“Aku mengerti, Mas,” jawab Alya datar. “Selalu mengerti. Hati-hati di jalan.”Alya menutup telepon. Ia melihat gaun yang sudah ia siapkan di atas kasur. Malam itu, Alya memutuskan untuk tidak membatalkan reservasi restoran. Ia pergi sendiri, memesan makanan untuk dua porsi, dan menghabiskannya dalam diam di bawah mengumpulkan belas kasihan dari pelayan restoran. Di titik itulah Alya sadar, pernikahan mereka sedang berjalan menuju tepi jurang jika tidak ada yang berubah.
Secarik Kertas di Atas Koper
Dua hari kemudian, Andra pulang ke rumah pada tengah malam. Ia kelelahan, tetapi langkah kakinya terhenti saat masuk ke kamar tidur.Kopernya yang biasa diletakkan di sudut kamar kini berada di tengah ruangan. Di atas koper itu, ada sebuah amplop putih. Andra membukanya dengan tangan bergetar, mengira itu adalah surat gugatan cerai.Namun, isinya adalah sebuah surat refleksi dari Alya:
Mas Andra,
Aku tahu kamu bekerja keras untuk kita, untuk masa depan yang sering kamu ceritakan. Aku bangga punya suami sepertimu. Tapi Mas, masa depan itu tidak akan ada artinya kalau di masa sekarang kita kehilangan satu sama lain.
Aku tidak membutuhkan rumah yang lebih besar atau tabungan yang berlimpah jika bayarannya ada pada kehadiranmu. Aku rindu suamiku, bukan kiriman uang bulanan atau pesan ‘sudah mendarat’.
Koper ini sengaja ditaruh di sini. Jika kamu merasa duniamu memang ada di luar sana, silakan bawa koper ini pergi lagi. Tapi jika kamu masih ingin membangun rumah tangga bersamaku, mari kita duduk dan terutama batasan pekerjaanmu. Aku tidak bisa terus berjalan sendirian di rumah ini.
Andra menurunkan surat itu.
Ia menatap Alya yang ternyata sedang duduk di kegelapan ruang tamu, memperhatikannya.Andra berjalan mendekat, lalu berlutut di depan istrinya. Air mata pria itu luruh. Ia menyadari bahwa dalam usahanya mengejar materi untuk membahagiakan Alya, ia justru merampas hal paling berharga yang dibutuhkan istrinya: kehadiran barunya sendiri.“Maafkan aku, Al,” bisik Andra serak, menggenggam tangan Alya yang dingin. “Aku terlalu buta dengan ambisi. Aku lupa kalau rumahku itu kamu, bukan kantor.”
Awal yang Baru
Perubahan tidak terjadi dalam semalam, tetapi Andra menepati janjinya. Ia menghadap ke manajemen firman jabatannya untuk meminta pengurangan porsi dinas luar, meskipun konsekuensinya ia harus merelakan beberapa bonus besar.Kini, pembeli hitam besar itu lebih sering tersimpan di dalam gudang, berdebu.Malam ini, suasana rumah tipe 45 kembali hangat. Tidak ada lagi suara televisi yang menyala hanya untuk mengeluarkan sepi. Di meja makan, kini ada dua piring, dua pasang sendok, dan suara tawa yang saling bersahutan. Andra dan Alya akhirnya kembali menemukan jalan pulang ke hati satu sama lain. ******
