Disusun: Dawai
Res adalah gadis pendiam yang manis, sampai kamu melihatnya membawa sebuah buku kas bersampul merah menyala dan sebuah pulpen hitam. Ketika Res mulai berdiri dari kursinya di pojok kelas, suasana ruangan yang tadinya bising langsung hening seketika. Itu adalah tanda bahaya.
Waktunya tagihan uang kas mingguan, Reno, yang terkenal sering menunggak uang kas selama tiga bulan, langsung berkeringat dingin. Dari kejauhan, ia melihat Res berjalan perlahan menelusuri meja. Langkah kaki terdengar seperti detak jam dinding di film horor.
Tok… tok… tok…Setiap kali Res berhenti di meja seseorang, orang tersebut akan tertunduk lesu, meraba-raba saku celana, dan menyerahkan selembar uang dengan tangan gemetar. Bagi yang tidak punya uang, mereka hanya bisa pasrah mengirimkan tajamnya Res yang mampu menembus jiwa.
“Reno,” suara Res terdengar dingin di depan mejanya. Reno mendongak, mencoba tersenyum manis. “Eh, Res. Hari ini cerah ya?” Res tidak membalas senyuman itu. Ia membuka buku merahnya dengan perlahan, membalik halaman demi halaman, lalu menunjuk sebuah nama dengan ujung pulpennya.
“Reno. Tunggakan: Rp60.000. Mau bayar sekarang, atau nama kamu dicatat di papan tulis pakai spidol merah permanen?” Ancaman papan tulis adalah hukuman sosial tertinggi di kelas. Nama yang dipajang di sana akan menjadi bahan olokan seisi kelas selama seminggu penuh.
Dengan tangan gemetar, Reno mengeluarkan dompetnya. Isinya hanya ada selembar uang Rp50.000 (yang sedianya untuk uang bensin dan makan siang) dan beberapa koin.“Kurang sepuluh ribu, Sar. Besok ya?” ratap Reno iba.
Res menatap uang Rp50.000 itu, lalu menatap Reno. Detik-detik berlalu dengan sangat tegang. Akhirnya, Sarah mengambil uang tersebut dan mencoret beberapa catatan di buku merahnya.”Sepuluh ribu lagi besok pagi sebelum bel masuk. Kalau telat, dendanya berjalan,” kata Res dingin, lalu berbalik menuju korban berikutnya.Reno bernapas lega.
Ia selamat hari ini, meskipun sisa harinya harus dilalui dengan perut keroncongan tanpa makan siang. Menghadapi penagih hutang bank sekalipun, rasanya tidak sehoror menghadapi terjadinya mata Res sang bendahara kelas. ******
