Dawai News, Jakarta – Kekalahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan partainya, Partai Republik, dalam pemilu sela atau paruh waktu (midterm election), Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei buka suara, Selasa, 3 nOVEMBER 2026.
Dalam pemilu sela kali ini, Trump dan kader-kader partainyanya kalah telak dari Partai Demokrat yang berhasil menguasai mayoritas Senat dan Dewan Perwakilan di Kongres AS.
“Kami berharap dominasi Setan Besar semakin cepat dan semakin pasti melemah,” kata Khamenei yang merujuk kepada AS melalui pernyataan pada Rabu (4/11).
Dikutip Chosun Ilbo, para pemimpin Iran telah lama mengecap AS sebagai “Setan Besar” sementara Israel, sekutu terdekatnya, sebagai “Setan Kecil”.
Dalam unggahannya di X, Khamenei bahkan menuturkan bahwa kesalahan perhitungan Trump untuk memicu perang dengan Iran malah menjadi bumerang yang melemahkan hegemoni Negeri Paman Sam.
“Saat ini, kekuatan dan hegemoni Amerika Serikat yang terus merosot telah mengalami kejatuhan yang tak dapat dipulihkan dalam kedua dimensi kekuasaannya: baik hard military power dan soft power internasionalnya,” ujar Khamenei.
“Proses keruntuhan AS semakin cepat,” ujarnya lagi.
Selain Mojtaba Khamenei, sejumlah pejabat Iran juga merayakan kekalahan Trump dan Republik dalam pemilu sela AS.
Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Baqer Qalibaf, jugz menyambut puas hasil pemilu sela AS, dengan menyatakan bahwa para pemilih telah menolak perang yang dilancarkan presiden AS tersebut.
“Entah karena hati nurani atau biaya hidup, rakyat Amerika telah mengatakan TIDAK UNTUK PERANG, dan kami mendukung pesan ini,” tulis Qalibaf, di X.
Ia menambahkan bahwa Washington tidak boleh mengabaikan opini publik dengan kembali menyerang negaranya.
Di Iran, sebuah media yang dikelola lembaga peradilan membagikan lelucon yang beredar di X: “Trump gagal melakukan pergantian rezim di Iran, tetapi berhasil di Texas.”
Lelucon itu merujuk pada negara bagian di selatan AS tersebut, tempat seorang Demokrat memenangkan pemilihan Senat untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.
Dalam unjuk rasa yang diselenggarakan pemerintah pada Rabu untuk memperingati pendudukan Kedutaan Besar AS di Teheran oleh mahasiswa selama Revolusi Islam 1979, warga Iran menyuarakan kemenangan atas hasil pemilu yang mereka kaitkan dengan keberhasilan Iran bertahan dari serangan AS selama berbulan-bulan.
“Fakta bahwa kekuatan Partai Republik yang gemar mengobarkan perang telah dipatahkan-sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia-berarti mulai sekarang kita akan menyaksikan perang sesungguhnya berlangsung di dalam Senat AS dan di kalangan pejabat Amerika,” kata seorang demonstran yang hanya menyebutkan nama keluarganya, Nazari.
Trump secara langka mengakui bahwa kekalahan Partai Republik di pemilu paruh waktu salah satunya karena keputusannya memerangi Iran.
Dalam wawancara bersama Fox News Democracy 26 pada Selasa (3/11), Trump mulanya memuji kemenangan Partai Demokrat di Kongres.
Ia menyebut kemenangan Demokrat sudah lama dinanti-nanti partai tersebut, namun hal itu bukan masalah baginya.
“Yah, saya akan katakan ini: selamat kepada Partai Demokrat. Mereka melakukannya dengan baik,” kata Trump dalam wawancara telepon dengan Fox News, seperti dikutip AFP.
“Mereka telah menantikan momen ini selama 11 tahun, dan akhirnya mereka mendapatkannya. Namun, saya tidak menganggap ini sebagai masalah… Saya bisa bekerja sama dengan mereka dalam banyak hal,” lanjutnya.
Trump kemudian menambahkan bahwa jika ada perselisihan dengan Demokrat di Kongres, ia siap untuk menggunakan hak vetonya.
Partai Republik kalah dari Partai Demokrat dalam pemilihan umum Senat dan DPR. Berdasarkan penghitungan suara yang dilakukan oleh New York Times, Partai Republik diproyeksi meraih 44 kursi di Senat, sedangkan Demokrat 54 kursi.
Di DPR, kursi yang kemungkinan diperoleh Republik hanya sekitar 139, sementara Demokrat 228 kursi. Kemenangan Demokrat ini bahkan terjadi untuk pertama kalinya di negara bagian konservatif seperti Kansas dan Texas. cnn
