Disusun Oleh: Dafrizal (Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Solok)
Di zaman yang dilanda dengan derasnya arus globalisasi, teknologi, dan perubahan gaya hidup, manusia kerap melupakan sumber pengetahuan penting yang sudah ada sejak zaman dahulu: alam. Hal ini mengakibatkan banyak yang kehilangan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan lingkungan, sehingga berdampak pada kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.
Padahal alam tidak hanya sebagai penyedia sumber daya seperti air, udara, tanah, mineral, dan energi yang dibutuhkan manusia untuk hidup. Lebih jauh lagi alam dapat menjadi sumber inspirasi bagi manusia dalam bidang seni, sastra, dan ilmu pengetahuan.
Masyarakat Minangkabau memiliki pepatah bijak yang berbunyi “Alam takambang jadi guru”, yang jika diartikan secara harfiah bermakna alam yang terbentang luas menjadi guru bagi manusia. Pepatah ini bukan sekadar ungkapan indah belaka, tetapi merupakan prinsip hidup yang mengajarkan bahwa segala yang ada di alam semesta dapat menjadi sumber pembelajaran, jika kita mau mengamati, memahami, dan mengambil hikmahnya. Nilai ini telah diwariskan turun-temurun sebagai pedoman perilaku, sumber inspirasi, dan landasan dalam pengambilan keputusan.
Baca Juga: Literasi Merupakan Bahasa Lisan Dan Tulisan
Adat Minangkabau yang berlandaskan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) , alam tidak hanya dipandang sebagai objek fisik untuk dieksploitasi, tetapi sebagai sumber ilmu, hikmah, dan petunjuk moral. sangat selaras dengan konsep dalam Al-Qur’an mengenai ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta) yang berjalan beriringan dengan ayat-ayat qauliyah (kitab suci Al-Qur’an).
Al-Qur’an secara berulang memerintahkan manusia untuk memperhatikan, memikirkan, dan mempelajari fenomena alam ( tadabbur ) agar mendapatkan kebijaksanaan:
1. Belajar dari Peristiwa dan Makhluk di Alam, Surat Al-Ma’idah: 27–31
۞ وَاتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَاَ ابۡنَىۡ اٰدَمَ بِالۡحَـقِّۘ اِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنۡ اَحَدِهِمَا وَلَمۡ يُتَقَبَّلۡ مِنَ الۡاٰخَرِؕ قَالَ لَاَقۡتُلَـنَّكَؕ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الۡمُتَّقِيۡنَ ٢٧
Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”
2. Perumpamaan dan Renungan dari Alam, Surat Ibrahim: 24–25
اَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصۡلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرۡعُهَا فِى السَّمَآءِۙ ٢٤
Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,
تُؤۡتِىۡۤ اُكُلَهَا كُلَّ حِيۡنٍۢ بِاِذۡنِ رَبِّهَاؕ وَيَضۡرِبُ اللّٰهُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُوۡنَ ٢٥
(pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.
وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيۡثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيۡثَةٍ ۨاجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا لَهَا مِنۡ قَرَارٍ ٢٦
Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.
3. Perintah Memikirkan Penciptaan Langit dan Bumi, Surat Ali ‘Imran: 190–191
اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ ۚۖ ١٩٠
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
الَّذِيۡنَ يَذۡكُرُوۡنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوۡدًا وَّعَلٰى جُنُوۡبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُوۡنَ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ١٩١
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.
Sedangkan secara filosofis, “Alam takambang jadi guru” mengandung makna bahwa proses belajar tidak terbatas pada ruang-ruang kelas atau pendidikan formal semata. Bahkan ilmu pengetahuan yang terdapat di dalam buku-buku teks sejatinya berasal dari alam jua. Dengan demikian, belajar yang sesungguhnya adalah dengan mengamati berbagai fenomena alam yang terjadi. Alam menyediakan berbagai hal yang dibutuhkan manusia mulai dari hal sederhana sampai yang kompleks.
Dahulunya masyarakat Minangkabau memandang bahwa setiap peristiwa di alam memiliki nilai pendidikan yang bisa diambil pelajaran darinya. Misalnya, dari aliran air di sungai megajarkan kesabaran dan kelembutan, batu karang yang diterpa ombak lautan mengajarkan keteguhan, dan hutan mengajarkan keseimbangan. Hutan yang sehat adalah hasil keseimbangan antara semua makhluk di dalamnya. Bila salah satu unsur rusak, keseimbangan terganggu. Pelajaran ini relevan bagi manusia dalam menjaga harmoni sosial dan lingkungan.Tumbuhan tidak pernah tergesa-gesa untuk tumbuh. Ia mengikuti ritme alam dengan tekun, menerima cahaya matahari, air, dan nutrisi secukupnya. Dari sini manusia diajak untuk belajar bahwa proses membutuhkan waktu, dan hasil yang baik datang dari ketekunan.
Dari hewan kecil seperti lebah juga banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Lebah hanya mengisap dari yang baik-baik berupa nektar untuk menghasilkan madu yang menyehatkan. Lebah hidup berkoloni dan bekerja sama untuk menghasilkan madu. Mereka membagi tugas dengan teratur dan saling mendukung demi keberlangsungan kelompok. Tugas itu memiliki jadwal kerja yang ketat dan disiplin dalam menjalankan tugasnya. Nilai ini mengajarkan pentingnya gotong royong dan kolaborasi dalam kehidupan manusia. Selain itu, lebah termasuk hewan yang adaptif. Lebah dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan musim.
Prinsip “Alam takambang jadi guru” sebenarnya dapat juga diterapkan dalam dunia pendidikan modern, baik formal maupun informal. Guru dan pendidik dapat mengadakan kegiatan-kegiatan yang mengajak siswa keluar kelas untuk mengamati alam secara langsung. Misalnya, belajar tentang fotosintesis tidak hanya dari buku, tetapi juga dari mengamati tumbuhan di sekitar. Hal ini dapat menghubungkan materi pelajaran dengan fenomena nyata di alam, sehingga siswa memahami bagaimana prosenya secara langsung. Di bidang seni dan sastra, metafora dari alam dapat digunakan untuk membangun perilaku positif.
Agar makna “Alam takambang jadi guru” tetap relevan, beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah menjadikan pembelajaran berbasis alam bagian dari sistem pendidikan formal. Menggabungkan rekreasi dan pembelajaran melalui kegiatan di luar ruangan. Menghidupkan kembali tradisi bercerita, termasuk pepatah, pantun, dan cerita rakyat. Mengajak masyarakat terlibat aktif dalam aksi nyata seperti menanam pohon atau membersihkan sungai.
“Alam takambang jadi guru” adalah warisan kearifan lokal yang mengajarkan manusia untuk belajar dari segala hal yang ada di alam semesta. Ia mengajarkan kesabaran, kerja sama, keseimbangan, dan kebijaksanaan. Meskipun pepatah ini penuh makna, penerapannya menghadapi tantangan di era modern. Penebangan hutan secara sembarangan, polusi, dan perubahan iklim mengurangi kesempatan belajar langsung dari alam yang utuh.
Generasi muda lebih banyak berinteraksi dengan gawainya masing-masing daripada dengan alam. Pepatah dan kearifan lokal berisiko punah jika tidak dijaga dan dilestarikan. Pada akhirnya, jika manusia mau membuka mata dan hati, setiap embusan angin, tetes hujan, dan cahaya mentari adalah guru yang selalu setia mengajarkan pelajaran berharga—tanpa meminta imbalan apa pun. Alam tidak hanya menjadi latar kehidupan, tetapi juga sumber kebijaksanaan yang tak ternilai harganya. ****
