Jum. Sep 18th, 2026

Tasawuf dan Maqam Ilahi

Tass
ilustrasi

Disusun Oleh: Dawai

Ajaran yang masih dianggap tabu sampai sekarang adalah tasawuf atau sufisme. Ada yang mengatakannya bukan ajaran Islam, bahkan ada yang menganggapnya ajaran sesat. Akan tetapi, jika kita pelajari lebih dalam sebenarnya tasawuf tidak seperti yang disangka oleh banyak orang. Memang ada beberapa aliran dalam tasawuf yang ekstrim, tetapi ada juga yang masih sejalan dengan syariat.

Salah satu konsep yang saat ini sering disalahartikan oleh masyarakat adalah tarekat.  Tarekat dalam pengertian saat ini adalah sebuah kelompok atau komunitas tertentu yang memiliki ritual atau bacaan dzikir khusus yang diajarkan oleh mursyid (guru tarekat) mereka. Padahal kalau kita tarik lagi ke definisi awal dari tarekat dengan mengacu pada pendapat As Sarraj (dalam kitab al Luma Fi Tasawwuf), tarekat adalah jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi yang hendak menuju pincak spiritual.

Dalam kitab Al Luma Fi Tasawwuf yang ditulis oleh Abu Nasr As Sarraj disebutkan bahwa maqam atau tingkatan spiritual ada 7.

Pertama, tobat. Tingkatan pertama adalah tobat. Dalam hal ini tobat dijelaskan sebagai kesadaran akan kesalahan dan dosa dan ada keinginan yang kuat untuk meminta ampunan kepada Allah dan janji yang kuat pada diri sendiri untuk tidak mengulangi lagi kesalahan dan dosa yang lalu.

Kedua, Wara’. Perilaku wara diartikan sebagai meninggalkan segala sesuatu yang subhat (tidak jelas asal usulnya). Dalam pengertian ini yang dimaksud dengan segala hal yang tidak jelas asal usulnya adalah yang menyangkut dengan sesuatu yang dimakan atau yang dikenakan oleh seorang sufi. Misalnya, seorang sufi akan menolak makanan yang tidak jelas asal usulnya atau ada kemungkinan ia berasal dari sesuatu yang haram. Contoh konkretnya makanan yang diberikan oleh pejabat pemerintah. Ada kemungkinan bahwa makanan itu berasal dari sesuatu yang haram, seperti korupsi dan sebagainya.

Ketiga,  Zuhud. Perilaku zuhud diartikan sebagai meninggalkan segala sesuatu yang menyangkut urusan duniawi, misalnya harta benda dan sebagainya. Dalam hal ini sufi sangat dilarang mencintai dunia karena hal itu bisa melalaikan mereka dari Allah SWT.

Keempat, fakir. Fakir di sini bukan berarti orang yang tidak punya penghasilan tetap dan tidak mampu memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Akan tetapi, fakir di sini berarti prinsip yang diyakini oleh sufi bahwa tidak ada yang ia butuhkan di dunia ini selain Allah dan ia tidak punya apa-apa di dunia ini kecuali hanya Allah.

Kelima, sabar. Sabar dalam pengertian ini adalah sabar dalam menghadapi ujian, sabar dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT, dan sabar dalam meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah. Perilaku sabar ini dapat juga diartikan menahan diri segala kekecewaan dan sebagainya atas keputusan yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Keenam, tawakkal. Tingkatan keenam adalah tawakkal yang berarti berserah diri kepada Allah SWT. Dalam hal ini seorang sufi akan menyerahkan segala yang terjadi pada dirinya kepada Allah. Dengan adanya perilaku tawakkal itu akan membawa pada tingkatan yang lebih tinggi yaitu ridha.

Ketujuh,  Ridha. Ridha adalah puncak dari maqam atau tingkatan spiritual seorang sufi. Ridha dalam hal ini adalah kepuasan dan kebahagiaan atas apa saja yang terjadi dalam hidup. Artinya, seorang sufi itu bahagia meskipun hidupnya miskin dan sengsara karena yang ada dalam pikiran dan hatinya adalah kebahagiaan karena dekat dengan Allah SWT.

Sedangkan Maqam Ilahi dalam tradisi tasawuf Islam Merujuk pada tingkatan spiritual, kedudukan rohani, atau stasiun batiniahseorang hamba di hadapan Allah SWT. Berbeda dengan tempat fisik (seperti kuburan atau petilasan), istilah

maqam(jamak: maqamat ) dalam ilmu batin melambangkan tahapan kesucian jiwa dan kedekatan hubungan spiritual yang dicapai seorang hamba melalui usaha keras (mujahadah ), ibadah istiqomah, dan penyucian hati (tazkiyatun nafs ).

Untuk memahami maknanya secara mendalam, berikut adalah ciri-ciri dan beberapa tingkatan utama dari Maqam Ilahi:Karakteristik Utama Maqam Ilahi

  • Melalui Usaha Nyata ( Kasbi ): Berbeda dengan Ahwal (kondisi batin yang datang tiba-tiba sebagai anugerah spontan dari Allah), maqam diperoleh melalui perjuangan aktif, latihan spiritual ( riyadhah ), dan kesengajaan sang hamba.
  • Bersifat Permanen ( Makin ): Sekali seseorang mantap menduduki suatu tingkatan spiritual, sifat tersebut akan menjadi corak jiwa yang dominan dan stabil dalam dirinya, tidak mudah goyah atau berubah-ubah.
  • Bertahap: Seorang pejalan spiritual ( salik ) umumnya harus menyelesaikan satu tahapan dengan sempurna sebelum bisa naik ke tingkat berikutnya.

Tahapan atau Tingkatan Maqam IlahiSetiap ulama sufi, seperti Abu Nasr as-Sarraj at-Tusi atau Muhammad al-Kalabazy, menyusun rumusan tahapan yang sedikit berbeda. Namun secara umum, berikut adalah tingkatan yang paling disepakati untuk menuju kedekatan Ilahi:

  • Maqam Taubat (Tobat): Gerbang awal spiritual di mana seseorang menyesali dosa, memohon ampun, dan tekad yang kuat untuk kembali ke jalan Allah.
  • Maqam Wara’ (Warak): Kehati-hatian yang tinggi dalam hidup dengan menjauhi perkara yang syubhat (samar atau meragukan) demi menjaga kebersihan hati.
  • Maqam Zuhud : Melepaskan hati dari kemewahan dunia sehingga harta dan materi tidak lagi mengendalikan jiwa.
  • Maqam Faqr (Kefakiran): Kesadaran mutlak bahwa diri kita tidak memiliki apa-apa dan selalu membutuhkan kepada Allah di setiap hembusan napas.
  • Maqam Sabar : Keteguhan batin dalam menghadapi ujian, menjalankan perintah Allah, serta menjauhi larangan-Nya tanpa mengeluh.
  • Maqam Tawakal : Berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah setelah melakukan usaha yang maksimal.
  • Maqam Ridha : Puncak penerimaan hati yang paling lapang atas segala ketentuan dan takdir yang Allah berikan kepada dirinya.

Di atas tingkatan-tingkatan ini, para sufi juga mengenal puncaknya seperti

  1. Maqam Mahabbah (cinta ilahi yang mendalam)
  2. Maqam Ma’rifat (pengenalan batin yang hakiki tentang Allah), hingga mencapai kedudukan sebagai Arif Billah.

Singkatnya, maqam ilahi bukanlah sebuah tempat fisik, melainkan kondisi kesadaran spiritual tertinggi di mana tirik-tirik duniawi telah runtuh, dan yang tersisa di dalam hati manusia hanyalah Allah. ****

dw

By dw

Related Post

Tinggalkan Balasan