Disusun Oleh : Dt. Rajo Batipueh
Sistem keturunan Menurut Ibu
Sistem ini merupakan salah satu aspek utama dalam mendefenisikan indentitas masyarakat Nagari Gauang, karena garis keturunan seseorang di rujuk kepada ibu. Di Gauang kehadiran seorang perempuan sangat perlu, karena sebuah keluarga tidak ada keturunan perempuan maka terputuslah garis keturunan tersebut.
Sistem ini sangat sulit di bantah karena sudah ada sejak dulu dan tumbuh berkembang di Nagari Gauang hingga saat sekarang ini. Hal ini lah yang menyebabkan perempuan Gauang memiliki keunikan dan keistimewaan sendiri. Masyarakat sangat memahami kalau perempuan memiliki derjat yang tinggi dimana perempuan memperoleh hak-hak yang biasanya di peroleh oleh laki-laki, namun hak tersebut di peroleh oleh kaum perempuan. Ada dua jenis hak yang di terima oleh perempuan yang di katakan Bundo Kanduang yaitu materil dan moral.
Bunda Kanduang dalam masyarakat dimaknai sebagai perempuan yang diberi kehormatan dan keutamaan menurut adat. Bunda Kanduang sebagai penerima ketentuan keturunan menurut garis ibu, penerima ketentuan rumah tempat tinggal diberikan kepada perempuan, penerima ketentuan bahwa harta dan sumber ekonomi diutamakan untuk perempuan, penerima ketentuan bahwa yang menyimpan hasil usaha perekonomian adalah juga perempuan, serta pemegang hak suara istimewa dalam bermusyawarah. Ketentuan ini dapat dicermati dalam petatah petitih yang berbunyi sebagai berikut :
Alim pandito dalam nagari
Suluah nan tarang jadi palito
Sipat parampuan pulo dikaji
Parhiasan alam dan rumahtanggo
Bunda Kanduang dalam kaum
Lalimpeh rumah nan gadang
Amban puruak pagangan kunci
Pusek jalo kumpulan tali
Ka pai tampek batanyo
Kok pulang tampek babarito
Sumarak dalam nagari
Hiasan dalam kampuang
Nan gadang basa batuah
Kok iduik tampek baniat
Kok mati tampek banazar
Ka unduang-unduang ka Madinah
Ka payuang panji ka sarugo
Ayat Alquran Tentang Ibu
Berbakti kepada ibu merupakan salah satu amalan utama yang sangat ditekankan dalam islam. Berikut ini beberapa ayat alquran tentang ibu yang menunjukkan betapa ibu adalah sosok wanita mulia yang sudah sepantasnya mendapatkan perlakuan baik dari kita semua.
إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّكَ مَا يُوحَى * أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِ السَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي * إِذْ تَمْشِي أُخْتُكَ فَتَقُولُ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَنْ يَكْفُلُهُ فَرَجَعْنَاكَ إِلَى أُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا فَلَبِثْتَ سِنِينَ فِي أَهْلِ مَدْيَنَ ثُمَّ جِئْتَ عَلَى قَدَرٍ يَامُوسَى
(yaitu) ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesuatu yang diilhamkan, (38) (yaitu), letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil), maka biarkanlah (arus) sungai itu membawanya ke tepi, dia akan diambil oleh (Fir‘aun) musuh-Ku dan musuhnya. Aku telah melimpahkan kasih saying kepadamu yang datang dari-Ku, dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku. (39) (Yaitu) ketika saudara perempuanmu berjalan, lalu dia berkata (kepada keluarga Fir‘aun), ‘Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan mengasuhnya?’ Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati. Dan engkau pernah membunuh seseorang, lalu Kami selamatkan engkau dari kesulitan (yang besar), dan Kami telah mengujimu dengan beberapa cobaan (yang berat); lalu engkau tinggal beberapa tahun bersama penduduk Madyan, kemudian engkau, wahai Musa, datang menurut waktu yang ditetapkan. (40) – (Q.S Thaha: 38-40)
